ShoAnn's picture
End of training
fe5bc57 verified
|
Raw
History Blame Contribute Delete
246 kB
metadata
tags:
  - sentence-transformers
  - sentence-similarity
  - feature-extraction
  - generated_from_trainer
  - dataset_size:7037
  - loss:TripletLoss
base_model: indobenchmark/indobert-base-p1
widget:
  - source_sentence: >-
      Apakah meminta-minta sumbangan di jalanan itu diperbolehkan? Sering kita
      jumpai banyak masyarakat yang meminta sumbangan, misalnya untuk
      pembangunan masjid atau perbaikan jalan di lingkungan tersebut, apakah
      bisa?
    sentences:
      - >-
        ['(1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara untuk kegiatan
        angkutan udara wajib memiliki sertifikat. (21 sertifrkat sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. sertilikat operator pesawat
        udara (air operator ertificatel yang diberikan kepada badan hukum
        indonesia yang mengoperasikan pesawat udara sipil untuk angkutan udara
        niaga; atau b. sertiflkat pengoperasian pesawat udara (operating
        ertificatel yang diberikan kepada orang atau badan hukum indonesia yang
        pesawat udara sipil untuk angkutan udara bukan niaga. 19. pasal 42
        dihapus. 21. ketentuan. . . sk no 132655 a 20. pasal 43 dihapus.
        presiden repuelik indonesia -430- 21. ketentuan pasal 45 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 45 ketentuan lebih lanjut mengenai tata
        cara dan prosedur memperoleh sertifrkat operator pesawat udara atau
        sertilikat pengoperasian pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran
        denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam
        peraturan pemerintah. 22. ketentuan pasal 46 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 46 (1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat
        udara wajib merawat pesawat udara, mesin pesawat udara, baling-baling
        pesawat terbang, dan komponennya untuk mempertahankan keandalan dan
        kelaikudaraan secara berkelanjutan. l2l dalam perawatan pesawat udara,
        mesin pesawat udara, baling-baling pesawat terbang, dan komponennya
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap orang harus membuat program
        perawatan pesawat udara yang disahkan oleh pemerintah pusat. 23.
        ketentuan pasal 47 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 47
        perawatan pesawat udara, mesin pesawat udara, baling-baling pesawat
        terbang, dan komponennya sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 hanya dapat
        dilakukan oleh: a. perusahaan angkutan udara yang telah memiliki
        sertifikat operator pesawat udara; sk no 132656a b. badan . . . presiden
        republik tndonesia -43l- b. badan hukum organisasi perawatan pesawat
        udara yang telah memiliki sertifikat organisasi perawatan pesawat udara
        (approued maintenane organizationl; alau c. personel ahli perawatan
        pesawat udara yang telah memiliki lisensi ahli perawatan pesawat udara
        (aircrafi maintenance engineer licensel. 24. pasal48 dihapus. 25.
        ketentuan pasal 49 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 49
        sertifikat organisasi perawatan pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 47 huruf b dapat diberikan kepada organisasi perawatan pesawat
        udara (approued maintenance organizationl di luar negeri yang memenuhi
        persyaratan setelah memiliki sertifikat organisasi perawatan pesawat
        udara yang diterbitkan oleh otoritas penerbangan negara yang
        bersangkutan. 26. ketentuan pasal 5o diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 50 setiap orang yang melanggar ketentuan perawatan
        pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 dikenai sanksi
        administratif. 27. ketentuan pasal 51 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: sk no 132657a pasal 51 ... preslden repuelik indonesia -432-
        pasal 51 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara, prosedur, dan
        pemberian sertifikat organisasi perawatan pesawat udara dan lisensi ahli
        perawatan pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran denda, dan tata
        cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah.
        28. ketentuan pasal 58 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        58 (1) setiap personel pesawat udara wajib memiliki lisensi atau
        sertifikat kompetensi. (21 personel pesawat udara yang terkait langsung
        dengan pelaksanaan pengoperasian pesawat udara wajib memiliki lisensi
        yang sah dan masih berlaku. 29. ketentuan pasal 60 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 60 lisensi personel pesawat udara yang
        diberikan oleh negara lain dapat diakui melalui pengesahan oleh
        pemerintah pusat. 30. ketentuan pasal 61 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 61 ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan,
        tata cara dan prosedur memperoleh lisensi, atau sertiflkat kompetensi
        dan lembaga pendidikan dan/ atau sertifikat pelatihan diatur dalam
        peraturan pemerintah. 3l.ketentuan... sk no 132658 a presiden blik
        indonesia -433- 31. ketentuan pasal 63 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 63 (1) pesawat udara yang dapat dioperasikan di wilayah
        negara kesatuan republik indonesia hanya pesawat udara indonesia. (21
        dalam keadaan tertentu dan dalam waktu terbatas pesawat udara sipil
        asing dapat dioperasikan setelah mendapat persetqiuan dari pemerintah
        pusat. (3) pesawat udara sipil asing dapat dioperasikan oleh perusahaan
        angkutan udara nasional untuk penerbangan ke dan dari luar negeri
        setelah adanya perjanj ian antarnegara. (4) pesawat udara sipil asing
        yang akan dioperasikan sebagaimana dimaksud pada ayat', '(2) dan ayat',
        "(3) harus memenuhi persyaratan kelaikudaraan yang ditetapkan oleh
        pemerintah pusat. (5) setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1), ayat (2]', ayat (3), dan ayat", '(4) dikenai
        sanksi administratif. (6) ketentuan lebih lanjut mengenai pengoperasian
        pesawat udara sipil serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara
        pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat', "(5)
        diatur dalam peraturan pemerintah. 32. pasal 64 dihapus. 33. ketentuan
        pasal 66 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 66. . . sk no
        132659a presiden republik indonesia -434- pasal 66 ketentuan lebih
        lanjut mengenai proses dan biaya sertifikasi diatur dalam peraturan
        pemerintah. 34. ketentuan pasal 67 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 67 (1) setiap pesawat udara negara yang dibuat dan
        dioperasikan harus memenuhi standar rancang bangun, produksi, dan
        kelaikudaraan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 pesawat udara
        negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki tanda
        identitas. 35. ketentuan pasal 84 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 84 angkutan udara niaga dalam negeri hanya dapat
        dilakukan oleh badan usaha angkutan udara nasional yang telah memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat. 36. ketentuan pasal 85 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 85 (1) angkutan udara niaga
        berjadwal dalam negeri hanya dapat dilakukan oleh badan usaha angkutan
        udara nasional yang telah memenuhi perizinan berusaha terkait angkutan
        udara niaga berjadwal. (2) badan . . . sk no 132660 a presiden repuelik
        indonesia -435- (21 badan usaha angkutan udara niaga berjadwal
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam keadaan tertentu dan bersifat
        sementara dapat melakukan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. (3) kegiatan
        angkutan udara niaga tidak berjadwal yang bersifat sementara sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan atas inisiatif instansi
        pemerintah dan/atau atas permintaan badan usaha angkutan udara niaga
        nasional. (41 kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal yang
        dilaksanakan oleh badan usaha angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) tidak menyebabkan terganggunya pelayanan pada
        rute yang menjadi tanggung jawabnya dan pada rute yang masih dilayani
        oleh badan usaha angkutan udara niaga berjadwal lainnya. 37. ketentuan
        pasal 91 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 91 (1) angkutan
        udara niaga tidak berjadwal dalam negeri hanya dapat dilakukan oleh
        badan usaha angkutan udara nasional yang telah memenuhi peizinar,
        berusaha dari pemerintah pusat. (21 angkutan udara niaga tidak berjadwal
        dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan
        persetujuan terbang fflight approuatl. (3) badan usaha angkutan udara
        niaga tidak berjadwal dalam negeri dalam keadaan tertentu dan bersifat
        sementara dapat melakukan kegiatan angkutan udara niaga berjadwal
        setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. sk no 132661a (4)
        kegiatan. . . presiden repijblik indonesia -436- (41 kegiatan angkutan
        udara niaga berjadwal yang bersifat sementara sebagaimana dimaksud pada
        ayat (3) dapat dilakukan atas inisiatif instansi pemerintah, pemerintah
        daerah, dan/ atau badan usaha angkutan udara niaga nasional. (5)
        kegiatan angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud pada ayat
        (3) tidak menyebabkan terganggunya pelayanan angkutan udara pada rute
        yang masih dilayani oleh badan usaha angkutan udara niaga befadwal
        lainnya. 38. ketentuan pasal 93 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 93 (1) kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar
        negeri yang dilakukan oleh badan usaha angkutan udara niaga nasional
        wajib mendapatkan persetujuan terbang dari pemerintah pusat. (21
        kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri yang dilakukan
        oleh perusahaan angkutan udara niaga asing wajib mendapatkan persetujuan
        terbang dari pemerintah pusat. 39. ketentuan pasal 94 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 94 (1) kegiatan angkutan udara niaga
        tidak berjadwal oleh perusahaan angkutan udara asing yang melayani rute
        ke indonesia dilarang mengangkut penumpang dari wilayah indonesia,
        kecuali penumpang sendiri yang diturunkan pada penerbangan sebelumnya.
        (21 kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal oleh perusahaan
        angkutan udara asing yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada
        ayat (1) dikenai sanksi administratif. sk no 132662a (3) ketentuan. . .
        presiden republik indonesia -437- (3) ketentuan lebih lanjut mengenai
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan
        pemerintah. 40. ketentuan pasal 95 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 95 (1) perusahaan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        asing khusus pengangkut kargo yang melayani rute ke indonesia dilarang
        mengangkut kargo dari wilayah indonesia, kecua-li dengan persetujuan
        pemerintah pusat. (21 perusahaan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        asing khusus pengangkut kargo yang melanggar ketentuan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif. (3) ketentuan lebih
        lanjut mengenai kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan
        sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam
        peraturan pemerintah. 41. ketentuan pasal 96 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 96 ketentuan lebih lanjut mengenai angkutan udara
        niaga, kerja sama angkutan udara, dan sanksi administratif termasuk
        prosedur dan tata cara pengenaan, diatur dalam peraturan pemerintah. 42.
        ketentuan pasal 97 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 97...
        sk no 132663 a presiden republik indonesia -438- pasal 97 (1) pelayanan
        yang diberikan badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dalam
        menjalankan kegiatannya dapat dikelompokkan paling sedikit dalam: a.
        pelayanan dengan standar maksimum; b. pelayanan dengan standar menengah;
        atau c. pelayanan dengan standar minimum. (21 badan usaha angkutan udara
        niaga berjadwal dalam menyediakan pelayanan sebagaimana dimaksud pada
        ayat (1) harus memberitahukan kepada pengguna jasa tentang kondisi dan
        spesifikasi pelayanan yang disediakan. 43. pasal 99 dihapus. 44.
        ketentuan pasal 100 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 10o
        ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan badan usaha angkutan udara
        niaga berjadwal diatur dalam peraturan pemerintah. 45. ketentuan pasal
        1o9 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 109 kegiatan
        angkutan udara niaga sebagaimana dimaksud dalam pasal 1o8 dilakukan oleh
        badan usaha di bidang angkutan udara niaga nasional setelah memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat. 46. pasal 110 dihapus. 47.
        pasal 111 . . . sk no 132664a prestden republik tndonesia -439- 47.
        pasal 111dihapus. 48. ketentuan pasal 112 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 112 perizinan berusaha sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 109 berlaku selama pemegan gperizinan berusaha masih menjalankan
        kegiatan angkutan udara secara nyata dengan terus menerus mengoperasikan
        pesawat udara sesuai dengan perizinan berusaha yang diberikan. 49.
        ketentuan pasal 113 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 113
        (1) perizinan berusaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 109 dilarang
        dipindahtangankan kepada pihak lain sebelum melakukan kegiatan usaha
        angkutan udara secara nyata dengan mengoperasikan pesawat udara sesuai
        dengan perizinan berusaha yang diberikan. l2l pemegang perizinan
        berusaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        dikenai sanksi administratif berupa pencabutan perizinan berusaha. 50.
        ketentuan pasal 114 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 114
        ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, tata cara, dan prosedur
        memperoleh perizinar: berusaha terkait angkutan udara niaga diatur dalam
        peraturan pemerintah. 51. ketentuan pasal 118 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 118.. . sk no 132665 a presiden republik
        indonesia -440- pasal 118 (1) pemegang perizinan berusaha angkutan udara
        niaga wajib: a. melakukan kegiatan angkutan udara secara nyata paling
        lambat 12 (dua belas) bulan sejak perizinan berusaha diterbitkan dengan
        mengoperasikan minimal jumlah pesawat udara yang dimiliki dan dikuasai
        sesuai dengan lingkup usaha atau kegiatannya; b. memiliki dan menguasai
        pesawat udara dengan jumlah tertentu; c. mematuhi ketentuan wajib
        angkut, penerbangan sipil, dan ketentuan lain sesuai dengan peraturan
        perundang-undangan; d. menutup asuransi tanggung jawab pengangkut dengan
        nilai pertanggungan sebesar santunan penumpang angkutan udara niaga yang
        dibuktikan dengan perjanjian penutupan asuransi; e. melayani calon
        penumpang secara adil tanpa diskriminasi atas dasar suku, agama, ras,
        antargolongan, serta strata ekonomi dan sosial; f.  menyerahkan laporan
        kegiatan angkutan udara, termasuk keterlambatan dan pembatalan
        penerbangan setiap jangka waktu tertentu kepada pemerintah pusat; c.
        menyerahkan laporan kinerja keuangan yang telah diaudit oleh kantor
        akuntan publik terdaftar yang sekurang-kurangnya memuat neraca, laporan
        rugi laba, arus kas, dan perincian biaya, setiap tahun paling lambat
        akhir bulan april tahun berikutnya kepada pemerintah pusat; h.
        melaporkan apabila terjadi perubahan penanggung jawab atau pemilik badan
        usaha angkutan udara niaga, domisili badan usaha angkutan udara niaga,
        dan pemilikan pesawat udara kepada pemerintah pusat; dan i. memenuhi . .
        . sk no 132666a pres]den repualik indones -441 - i.  memenuhi standar
        pelayanan yang ditetapkan. (21 pemegang izin kegiatan angkutan udara
        bukan niaga yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah,
        badan usaha, dan lembaga tertentu wajib: a. mengoperasikan pesawat udara
        paling lambat 12 (dua belas) bulan setelah izin kegiatan diterbitkan; b.
        mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang penerbangan sipil dan
        peraturan perundang-undangan lain yang berlaku; c. menyerahkan laporan
        kegiatan angkutan udara setiap bulan paling lambat tanggal 10 (sepuluh)
        bulan berikutnya kepada pemerintah pusat; dan d. melaporkan apabila
        terjadi perubahan penanggung jawab, kepemilikan pesawat udara, dan/ atau
        domisili kantor pusat kegiatan kepada pemerintah pusat. (3) pemegang
        izin kegiatan angkutan udara bukan niaga yang dilakukan oleh orang
        perseorangan wajib: a. mengoperasikan pesawat udara paling lambat 12
        (dua belas) bulan setelah izin diterbitkan; b. mematuhi peraturan
        perundang-undangan di bidang penerbangan sipil dan peraturan
        pemndang-undangan lain; c. menyerahkan laporan kegiatan angkutan udara
        setiap bulan paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya kepada
        pemerintah pusat; dan d. melaporkan apabila terjadi perubahan penanggung
        jawab, kepemilikan pesawat udara, dan/ atau domisili pemegang izir,
        kepada pemerintah pusat. 52. ketentuan pasal 119 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 119... sk no 132667 a presiden republtk
        indonesia -442- pasal 119 (1) dalam hal pemegang perlinan berusaha
        angkutan udara niaga dan pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan
        niaga tidak melakukan kegiatan angkutan udara secara nyata dengan
        pesawat udara selama 12 (dua belas) bulan berturut-turut sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 118 ayat (1) hurufa, ayat(21 huruf a dan ayat (3)
        huruf a, peizinan berusaha angkutan udara niaga atau izin kegiatan
        angkutan udara bukan niaga yang diterbitkan tidak berlaku dengan
        sendirinya. (21 pemegang perizinan berusaha angkutan udara niaga dan
        pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan niaga yang melanggar
        ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 118 dikenai sanksi
        administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (21 diatur dalam peraturan pemerintah. 53. ketentuan
        pasal 120 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 12o ketentuan
        lebih lanjut mengenai kewajiban pemegang perlinan berusaha, persyaratan,
        dan sanksi administratif termasuk prosedur dan tata cara pengenaan
        sanksi diatur dalam peraturan pemerintah. 54. ketentuan pasal 130 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 13o . . . sk no 132668 a
        presiden repuelik indonesia -443- pasal 130 ketentuan lebih lanjut
        mengenai tarif angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi
        dan angkutan udara perintis serta sanksi administratif, termasuk
        prosedur dan tata cara pengenaan sanksi diatur dalam peraturan
        pemerintah. 55. pasal 131 dihapus. 56. pasal 132 dihapus. 57. pasal 133
        dihapus. 58. ketentuan pasal 137 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 137 ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 136 ayat (5) diatur dalam peraturan pemerintah. 59.
        ketentuan pasal 138 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 138
        (1) pemilik, agen ekspedisi muatan pesawat udara, atau pengirim yang
        menyerahkan barang khusus dan/atau berbahaya wajib menyampaikan
        pemberitahuan kepada pengelola pergudangan dan/ atau badan usaha
        angkutan udara sebelum dimuat ke dalam pesawat udara. sk no 132669a (2)
        badan . . . presiden republik indonesia -444- (21 badan usaha bandar
        udara, unit penyelenggara bandar udara, badan usaha pergudangan, atau
        badan usaha angkutan udara niaga yang melakukan kegiatan pengangkutan
        barang khusus dan/atau barang berbahaya wajib menyediakan tempat
        penyimpanan atau penumpukan serta bertanggung jawab terhadap penyusunan
        sistem dan prosedur penanganan barang khusus dan/ atau berbahaya selama
        barang tersebut belum dimuat ke dalam pesawat udara. (3) pemilik, agen
        ekspedisi muatan pesawat udara, pengirim, badan usaha bandar udara, unit
        penyelenggara bandar udara, badan usaha pergudangan, atau badan usaha
        angkutan udara niaga yang melanggar ketentuan pengangkutan barang
        berbahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikenai sanksi
        administratif. (41 ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (3) diatur dalam peraturan pemerintah. 60. ketentuan
        pasal 139 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 139 ketentuan
        lebih lanjut mengenai pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya
        serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 61. ketentuan pasal 205
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: sk no 099970 a pasal 2o5. . .
        presiden republik indonesia -445- pasal 2o5 (1) daerah lingkungan
        kepentingan bandar udara sebagaimana dimaksud dalam pasal 202 huruf g
        merupakan daerah di luar lingkungan kerja bandar udara yang digunakan
        untuk menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan serta kelancaran
        aksesibilitas penumpang dan kargo. (21 pemanfaatan daerah lingkungan
        kepentingan bandar udara harus mendapatkan persetqjuan dari pemerintah
        pusat. 62. pasal215 dihapus 63. ketentuan pasal 218 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 218 ketentuan lebih lanjut mengenai
        keselamatan dan keamanan penerbangan, pelayanan jasa bandar udara, serta
        tata cara dan prosedur untuk memperoleh sertifikat bandar udara atau
        register bandar udara dan kriteria, jenis, besaran denda, serta tata
        cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah.
        64. ketentuan pasal 219 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        219 (1) setiap badan usaha bandar udara atau unit penyelenggara bandar
        udara wajib menyediakan fasilitas bandar udara yang memenuhi persyaratan
        keselamatan dan  keamanan penerbangan serta pelayanan jasa bandar udara
        sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. sk no 137364a (2)
        setiap. . . presiden republik indonesia -446- (21 setiap badan usaha
        bandar udara atau unit penyelenggara bandar udara yang melanggar
        ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi
        administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. 65. ketentuan
        pasal 221 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 221 ketentuan
        lebih lanjut mengenai pengoperasian fasilitas bandar udara serta
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 66. ketentuan pasal 222
        ditubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal222 (1) setiap personel
        bandar udara wajib memiliki lisensi atau sertifrkat kompetensi. (21
        sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh
        melalui pendidikan dan/ atau pelatihan yang diselenggarakan lembaga yang
        telah diakreditasi oleh pemerintah pusat. 67. ketentuan pasal 224 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 224 lisensi personel bandar
        udara yang diberikan oleh negara lain dinyatakan sah melalui pengesahan
        atau validasi oleh pemerintah pusat. sk no 099123 a 68. ketentuan . . .
        presiden republik indonesia -447- 68. ketentuan pasal 225 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasaj225 ketentuan lebih lanjut
        mengenai persyaratan, tata cara dan prosedur memperoleh lisensi, lembaga
        pendidikan dan/atau pelatihan, serta kriteria, jenis, besaran denda, dan
        tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan
        pemerintah. 69. ketentuan pasal 233 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 233 (1) pelayanan jasa kebandarudaraan sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 232 ayat (2) dapat diselenggarakan oleh: a. badan
        usaha bandar udara untuk bandar udara yang diirsahakan secara komersial
        setelah memenuhi penzrnan berusaha dari pemerintah pusat; atau b. unit
        penyelenggara bandar udara untuk bandar udara yang belum diusahakan
        secara komersial yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada
        pemerintah pusat danlatau pemerintah daerah sesuai kewenangan. (21
        perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak
        dapat dipindahtangankan. (3) pelayanan jasa terkait bandar udara
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 232 ayat (3) dapat diselenggarakan oleh
        orang perseorangan warga negara indonesia dan/ atau badan hukum
        indonesia. (41 badan usaha bandar udara  yang memindahtangankan
        perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi
        administratif berupa pencabutan peizinan berusaha. sk no099124a
        70.ketentuan... presiden reptjelik indonesia -444- 70. ketentuan pasal
        237 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 237 pemerintah pusat
        mengembangkan usaha kebandarudaraan melalui penanaman modal sesuai
        dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal.
        71. ketentuan pasal 238 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        238 ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan pengusahaan di bandar
        udara, serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan
        sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 72. ketent.tan
        pasal 242 diuban' sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 242 ketentuan
        lebih lanjut mengenai tanggung jawab atas kerugian serta kriteria,
        jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif
        diatur dalam peraturan pemerintah. 73. ketentuan pasal247 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasa7247 ... sk no 099125 a presiden
        reptjelik indonesia -449- pasal247 (1) dalam rangka menunjang kegiatan
        tertentu, instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan/ atau badan
        hukum indonesia dapat membangun bandar udara khusus setelah mendapat
        persetujuan dari pemerintah pusat. (21 ketentuan keselamatan dan 
        keamanan penerbangan pada bandar udara khusus berlaku sebagaimana
        ketentuan pada bandar udara. 74. ketentuan pasai249 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 249 bandar udara khusus dilarang
        melayani penerbangan langsung dari dan/atau ke luar negeri kecuali dalam
        keadaan tertentu dan bersifat sementara setelah memperoleh persetujuan
        dari pemerintah pusat. 75. ketentuan pasal 250 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 250 bandar udara khusus dilarang digunakan untuk
        kepentingan umum, kecuali dalam keadaan tertentu dengan persetujuan dari
        pemerintah pusat. 76. ketentuan pasal 252 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 252 ketentuan lebih lanjut mengenai persetujuan
        pembangunan dan pengoperasian bandar udara khusus serta perubahan status
        menjadi bandar udara yang dapat melayani kepentingan umum diatur dalam
        peraturan pemerintah. sk no 099126 a 77. ketentuan . . . presiden
        repuelik indones -450- 77. ketentuan pasal 253 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 253 tempat pendaratan dan lepas landas helikopter
        terdiri atas: a. tempat pendaratan dan lepas landas helikopter di
        daratan (surfae leuel heliportl; b. tempat pendaratan dan lepas landas
        helikopter di atas gedung (eleuated leliportl; dan c. tempat pendaratan
        dan lepas landas helikopter di perairan (helideclq. 78. ketentuan pasal
        254 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 254 (1) setiap
        tempat pendaratan dan lepas landas helikopter yang dioperasikan wajib
        memenuhi ketentuan keselamatan penerbangan dan keamanan penerbangan. (21
        tempat pendaratan dan lepas landas helikopter yang telah memenuhi
        ketentuan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        diberikan tanda pendaftaran (registefi oleh pemerintah pusat. 79.
        ketentuan pasal 255 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 255
        ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur pemberian
        persetujuan pembangunan dan pengoperasian tempat pendaratan dan lepas
        landas helikopter diatur dalam peraturan pemerintah. sk no 132670a 8o.
        ketentuan . . . presiden republik indonesia -451 - 80. ketentuan pasal
        275 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 275 (1) lembaga
        penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 271 ayat (2) wajib memiliki sertifikat pelayanan navigasi
        penerbangan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 sertifikat
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada setiap unit 
        pelayanan penyelenggara navigasi penerbangan. (3) unit  pelayanan
        penyelenggara navigasi penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (21
        terdiri atas: a. unit pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara; b.
        unit pelayanan navigasi pendekatan; dan c. unit pelayanan navigasi
        penerbangan jelajah. 81. ketentuan pasal 277 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 277 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan
        prosedur pembentukan dan sertifikasi lembaga penyelenggara pelayanan
        navigasi penerbangan serta biaya pelayanan jasa navigasi penerbangan
        diatur dalam peraturan pemerintah. 82. ketentuan pasal 292 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 292 (1) setiap personel
        navigasi penerbangan wajib memiliki lisensi atau sertifrkat kompetensi.
        sk no 132671a (2) personel ... preslden repualik indonesia -452- (21
        personel navigasi penerbangan yang terkait langsung dengan pelaksanaan
        pengoperasian dan/atau pemeliharaan fasilitas navigasi penerbangan wajib
        memiliki lisensi yang sah dan masih berlaku. 83. ketentuan pasal 294
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal294 lisensi personel
        navigasi penerbangan yang diberikan oleh negara lain dinyatakan sah
        melalui pengesahan atau validasi oleh pemerintah pusat. 84. ketentuan
        pasal 295 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 295 ketentuan
        lebih lanjut mengenai persyaratan, tata cara dan prosedur memperoleh
        lisensi, kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 85. ketentuan pasal 317
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 317 ketentuan lebih
        lanjut mengenai sistem manajemen keselamatan penyedia jasa penerbangan,
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 86. ketentuan pasal 389
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: sk no 132672a pasal 389...
        presioen republik indonesia -453- pasal 389 setiap personel di bidang
        penerbangan yang telah memiliki sertifikat kompetensi sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 388 dapat diberi lisensi oleh pemerintah pusat
        setelah memenuhi persyaratan. 87. ketentuan pasal 392 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 392 ketentuan lebih lanjut mengenai
        sertifikat kompetensi dan lisensi serta penjrusunan program pelatihan
        diatur dalam peraturan pemerintah. 88. ketentuan pasal 409 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 4o9 setiap orang selain yang
        ditentukan dalam pasal 47 yang melakukan perawatan pesawat udara, mesin
        pesawat udara, baling-baling pesawat terbang dan komponennya dipidana
        dengan pidana penjara paling lama i (satu) tahun atau pidana denda
        paling banyak rp200.000.000,o0 (dua ratus juta rupiah). 89. ketentuan
        pasal 414 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 414 setiap
        orang yang mengoperasikan pesawat udara sipil asing di wilayah negara
        kesatuan republik indonesia tanpa persetujuan dari pemerintah pusat
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 63 ayat (2) dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp2.0o0.000.o00,o0 (dua miliar rupiah). 9o. ketentuan pasal 416 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 416 setiap orang yang melakukan
        kegiatan angkutan udara niaga dalam negeri tanpa perizinan berusaha dari
        pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 84 dipidana dengan
        pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling
        banyak rp500.00o.0oo,0o (lima ratus juta rupiah). 9 1. ketentuan . . .
        sk no 096546 a presiden republik indonesia -454- 91. ketentuan pasal 418
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 418 setiap orang yang
        melakukan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri
        tanpa persetujuan terbang dari pemerintah pusat sebagaimana dimaksud
        dalam pasal 93 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
        (satu) tahun atau pidana denda paling banyak rp350.000.0o0,o0 (tiga
        ratus lima puluh juta rupiah). 92. ketentuan pasal 423 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 423 (1) personel bandar udara yang
        mengoperasikan dan/ atau memelihara fasilitas bandar udara tanpa
        memiliki lisensi atau sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 222 yang mengakibatkan timbulnya korban dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak
        rp200.o00.000,0o (dua ratus juta rupiah). (21 dalam hal perbuatan
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). 93.
        ketentuan pasal 426 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 426
        setiap orang yang membangun bandar udara khusus tanpa persetqjuan dari
        pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 247 ayal (1) dipidana
        dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling
        banyak rp1.00o.0o0.o00,00 (satu miliar rupiah). sk no 132674a 94.
        ketentuan . . . presiden repuelik indonesia -455- 94. ketentuan pasal
        427 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 427 setiap orang
        yang mengoperasikan bandar udara khusus dengan melayani penerbangan
        langsung dari dan/atau ke luar negeri tanpa persetujuan dari pemerintah
        pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 249, dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp3.000.00o.000,00 (tiga miliar rupiah). 95. ketentuan pasal 428 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 428 (1) setiap orang yang
        mengoperasikan bandar udara khusus yang digunakan untuk kepentingan umum
        tanpa persetujuan dari pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal
        250 yang mengakibatkan timbulnya korban dipidana dengan pidana penjara
        paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp3.o00.000.000,00 (tiga miliar rupiah). (21 dalam hal tindak pidana
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp15.00o.000.000,00 (lima belas miliar
        rupiah). paragraf 1 1 kesehatan, obat, dan makanan pasal 59 untuk
        memberikan kemudahan bagi masyarakat terutama pelaku usaha dalam
        mendapatkan perizinan berusaha dari sektor kesehatan, obat, dan makanan,
        peraturan pemerintah pengganti undang-undang ini mengubah, menghapus,
        atau menetapkan pengaturan baru beberapa ketentuan yang diatur dalam: a.
        undang-undang nomor 36 tahun 2oo9 tentang kesehatan (iembaran negara
        republik indonesia tahun 2009 nomor 144, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5063); b. undang-undang . . . sk no 132675 a b
        presiden republik indonesia _456_ undang-undang nomor 44 tahun 2009
        tentang rumah sakit (kmbaran negara republik indonesia tahun 2009 nomor
        153, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5072);
        undang-undang nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika (lembaran negara
        republik indonesia tahun 1997 nomor 10, tambahan l,embaran negara
        republik indonesia nomor 3671); undang-undang nomor 35 tahun 2oo9
        tentang narkotika (kmbaran negara republik indonesia tahun 2009 nomor
        143, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5062); dan
        undang-undang nomor 18 tahun 2ol2 te.ntang pangan (kmbaran negara
        republik indonesia tahun 2012 nomor 227, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5360). pasal 60 beberapa ketentuan dalam
        undang-undang nomor 36 tahun 2o09 tentang kesehatan (lembaran negara
        republik indonesia tahun 2009 nomor 144, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5063) diubah sebagai berikut: ketentuan pasal
        30 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 30 (1) fasilitas
        pelayanan kesehatan menurut jenis pelayanannya terdiri atas: a.
        pelayanan kesehatan perseorangan; dan b. pelayanankesehatan masyarakat.
        (21 fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        meliputi: a. pelayanan kesehatan tingkat pertama; b. pelayanan kesehatan
        tingkat kedua; dan c. pelayanan kesehatan tingkat ketiga. c d e 1 sk no
        132676a (3) fasilitas. . . 2 presiden republik indonesla -457- (3)
        fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        dilaksanakan oleh pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta.
        (41 setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib memenuhi perizinan
        berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan
        kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat. ketentuan pasal 35 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 35 ketentuan lebih lanjut mengenai
        fasilitas pelayanan kesehatan dan peizinan berusaha diatur dalam
        peraturan pemerintah. ketentuan pasal 6o diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 60 (1) setiap orang yang melakukan pelayanan
        kesehatan tradisional yang menggunakan alat dan teknologi wajib memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norrna, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 ketentuan lebih lanjut
        mengenai peizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
        dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 1o6 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: 3 4 pasal 1o6 . . . sk no 132677a 5 presiden republik
        indonesia -458- pasal 106 (1) setiap orang yang memproduksi dan/ atau
        mengedarkan sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan harus memenuhi
        per2inan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 sediaan farmasi dan/ atau
        alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah memenuhi perizinan berusaha
        dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya
        berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh
        pemerintah pusat. (3) pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat berwenang mencabut perizinan
        berusaha dan memerintahkan penarikan dari peredaran sediaan farmasi
        dan/atau alat kesehatan yang telah memperoleh perizinan berusaha, yang
        terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/ atau
        kemanfaatan, serta sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan tersebut
        dapat disita dan dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan
        perundang- undangan. (4) ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan
        berusaha terkait sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1), ayat (21, dan ayat (3) diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 111 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 111 (1) makanan dan minuman yang dipergunakan untuk
        masyarakat harus didasarkan pada standar dan/ atau persyaratan
        kesehatan. sk no 132678 a (2) makanan . . . 6 presiden republik
        indonesia -459- (21 makanan dan minuman hanya dapat diedarkan setelah
        memenuhi perizinan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah
        sesuai dengan kewenangannya berdasarkan nonna, standar, prosedur, dan
        kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (3) makanan dan minuman
        yang tidak memenuhi ketentuan standar dan/atau persyaratan kesehatan
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau membahayakan kesehatan
        dilarang untuk diedarkan, serta harus ditarik dari peredaran, dilakukan
        pencabutan perizinan berusaha, dan diamankan/disita untuk dimusnahkan
        sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (41 ketentuan
        lebih lanjut mengenai perizinan bemsaha terkait makanan dan minuman
        sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 182 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 182 (1) pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya melakukan pengawasan terhadap masyarakat dan setiap
        penyelenggara kegiatan yang berhubungan dengan sumber daya di bidang
        kesehatan dan upaya kesehataa berdasarkan norma, standar, prosedur, dan
        kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (2) pemerintah pusat
        atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dalam melakukan
        pengawasan dapat memberikan perizinan berusaha terhadap setiap
        penyelenggaraan upaya kesehatan berdasarkan norma, standar, prosedur,
        dan kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (3) pemerintah pusat
        dalam melaksanakan pengawasan dapat mendelegasikan pengawasan kepada
        pemerintah daerah dan mengikutsertakan masyarakat. 7. ketentuan . . . sk
        no 132679 a 7 presiden republik indonesia _460_ ketentuan pasal 183
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 183 pemerintah pusat
        atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud
        dalam pasal 182 dalam melaksanakan tugasnya dapat mengangkat tenaga
        pengawas dengan tugas pokok untuk melakukan pengawasan terhadap segala
        sesuatu yang berhubungan dengan sumber daya di bidang kesehatan dan
        upaya kesehatan. ketentuan pasal 187 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 187 ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan dalam
        penyelenggaraan upaya di bidang kesehatan diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 188 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 188 pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan
        kewenangannya berdasarkan norna, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat dapat mengambil tindakan administratif
        terhadap tenaga kesehatan dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan yang
        melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. 1o.
        ketentuan pasal 197 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 197.
        . . 8 9 sk no 132680a presiden republik indonesia -461 - 1 pasal 197
        setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan
        farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki perizinan berusaha
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 1o6 ayat (1) dan/atau ayat (21,
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus
        juta rupiah). pasal 61 beberapa ketentuan dalam undang-undang nomor 44
        tahun 2009 tentang rumah sakit (lembaran negara republik indonesia tahun
        2009 nomor 153, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5o72)
        diubah sebagai berikut: ketentuan pasal 17 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 17 (1) rumah sakit yang tidak memenuhi
        persyaratan sebagai6411s dimaksud dalam pasal 7, pasal 8, pasal 9, pasal
        10, pasal 11, pasal 12, pasal 13, pasal 14, pasal 15, atau pasal 16
        dikenai sanksi administratif berupa: a. peringatantertulis; b.
        penghentian sementarakegiatan; c. dendaadministratif; d. pembekuan
        peizinan berusaha; dan/atau e. pencabutan penzinan berusaha. (21
        ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis, besaran denda, dan tata
        cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 24 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: 2 sk no 132681a pasaj24... 3 presiden republik
        indonesia -462- pasal 24 (1) pemerintah pusat menetapkan klasilikasi
        rumah sakit berdasarkan kemampuan pelayanan, fasilitas kesehatan, sarana
        penunjang, dan sumber daya manusia. (21 ketentuan lebih lanjut mengenai
        klasifikasi rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam
        peraturan pemerintah. ketentuan pasal 25 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 25 (1) setiap penyelenggara rumah sakit wajib
        memenuhi perizinan berusaha. (21 setiap penyelenggara rumah sakit yang
        tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai
        sanksi administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai tala cara
        pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
        dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 26 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 26 (1) peizitan berusaha terkait rumah sakit
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 diberikan oleh pemerintah pusat dan
        pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan klasifikasi
        rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam pasal 24. (21 pelaksanaan
        perizinan berusaha terkait rumah sakit oleh pemerintah daerah
        dilaksanakan sesuai dengan norrna, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat. 4 sk no 132682a 5. ketentuan . . . 5
        presiden republik indonesia -463- ketentuan pasal 27 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 27 perizinan berusaha terkait rumah
        sakit sebagaimana dimaksud dalam pasa1 25 dapat dicabut jika: a. habis
        masa berlakunya; b. tidak lagi memenuhi persyaratan dan standar; c.
        terbukti melakukan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan
        perundang-undangan; dan/ atau d. atas perintah pengadilan dalam rangka
        penegakan hukum. ketentuan pasal 28 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 28 ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan berusaha
        terkait rumah sakit diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal
        29 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 29 (1) setiap rumah
        sakit mempunyai kewajiban: a. memberikan informasi yang benar tentang
        pelayanan rumah sakit kepada masyarakat; b. memberikan pelayanan
        kesehatan y€rng aman, bermutu, anti diskriminasi, dan efektif dengan
        mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah
        sakit; c. memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan
        kemampuan pelayanannya; 6 7 sk no 132683 a d. berperan . . . presiden
        repuelik indonesia -464- d. berperan aktif dalam memberikan pelayanan
        kesehatan pada bencana sesuai dengan kemampuan pelayanannya; e.
        menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau
        miskin; f.  melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan
        fasilitas pelayanan bagi pasien tidak mampu atau miskin, pelayanan gawat
        darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan bagi korban bencana
        dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan; g.
        membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di
        rumah sakit sebagai acuan dalam melayani pasien; h. menyelenggarakan
        rekam medis; i.  menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara
        lain sarana ibadah, tempat parkir, ruang tunggu, sarana untuk penyandang
        disabilitas, wanita menyusui, anak-anak, dan lanjut usia; j. 
        melaksanakan sistem rujukan; k. menolak keinginan pasien yang
        bertentangan dengan standar profesi dan etika serta ketentuan peraturan
        perundang-undangan; 1. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur
        mengenai hak dan kewajiban pasien; m. menghormati dan melindungi hak
        pasien; n. melaksanakan etika rumah sakit; o. memiliki sistem pencegahan
        kecelakaan dan penanggulangan bencana; p. melaksanakan program
        pemerintah di bidang kesehatan, baik secara regional maupun nasional; q.
        membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau
        kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya; r.  menjrusun dan
        melaksanakan peraturan internal rumah sakit; s. melindungi . . . sk no
        132684a presiden repuelik indones]a -465- 8 s. melindungi dan memberikan
        bantuan hukum bagi semua petugas rumah sakit dalam melaksanakan tugas;
        dan t.  memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan
        tanpa rokok. (21 pelanggaran atas kewajiban s6lagai1n4n4 dimaksud pada
        ayal (1) dikenai sanksi administratif berupa: a. teguran; b. teguran
        tertulis; c. denda; dan/atau d. pencabutan per:ainan berusaha. (3)
        ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban rumah sakit sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) dan pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan
        pasal 40 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 40 (1) dalam
        upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit, wajib dilakukan akreditasi
        secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali. (21 akreditasi rumah sakit
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu lembaga
        independen, baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar
        akreditasi yang berlaku. (3) lembaga independen sebagaimana dimaksud
        pada ayat (21 ditetapkan oleh pemerintah pusat. (41 ketentuan lebih
        lanjut mengenai akreditasi rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat
        (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. 9. ketentuan . . .
        sk no 132685 a 9 presiden repuelik indonesia -466- ketentuan pasal 54
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 54 (1) pemerintah pusat
        dan pemerintah daerah dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat melakukan pembinaan dan pengawasan
        terhadap rumah sakit dengan melibatkan organisasi profesi, asosiasi
        perumahsakitan, dan  organisasi kemasyarakatan lainnya sesuai dengan
        tugas dan fungsi masing-masing. (21 pembinaan dan pengawasan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk: a. pemenuhan kebutuhan pelayanan
        kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat; b. peningkatan mutu pelayanan
        kesehatan; c. keselamatan pasien; d. pengembangan jangkauan pelayanan;
        dan e. peningkatan kemampuan kemandirian rumah sakit. (3) dalam
        melaksanakan tugas pengawasan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah
        sesuai dengan kewenangannya mengangkat tenaga pengawas sesuai kompetensi
        dan keahliannya. (41 tenaga pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
        melaksanakan pengawasan yang bersifat teknis medis dan teknis
        perumahsakitan. (5) dalam rangka pembinaan dan pengawasan, pemerintah
        pusat dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
        (21 dapat mengenakan sanksi administratif berupa: a. teguran; b. teguran
        tertulis; c. denda; dan/atau d. pencabutan perizinan berusaha. sk no
        132686a"]
      - >-
        ['(1) berdasarkan pertimbangan kebutuhan yang sangat mendesak, menteri
        dapat menunjuk sesuatu organisasi untuk melaksanakan pengumpulan
        sumbangan.']
      - >-
        PENGGOLONGAN BAHAN KIMIA I. BAHAN KIMIA DAFTAR-1: A. BAHAN KIMIA BERACUN
        : CAS Number No. HS 1 O-Alkyl (<C10, termasuk cycloalkyl) alkyl (Me, Et,
        n-Pr atau i-Pr)-phosphonofluoridates contoh: Sarin : O-Isopropyl
        methylphosphonofluoridate Soman : O-Pinacolyl methylphosphonofluoridate 
  - source_sentence: >-
      Belum lama, salah satu terdakwa kasus korupsi inisial SYL telah diputus
      oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor dengan hukuman 10 tahun penjara.
      Sebagai masyarakat awam, saya skeptis hukuman 10 tahun itu akan akan genap
      dijalani 10 tahun karena pasti dipotong berbagai jenis remisi. Pertanyaan
      saya, apakah remisi bisa dicabut khusus untuk kasus korupsi?
    sentences:
      - >-
        Yang dimaksud dengan tanpa terkecuali adalah berlaku sama bagi
        Narapidana untuk mendapatkan haknya dan tidak mendasarkan pada tindak
        pidana yang telah dilakukan, kecuali dicabut berdasarkan putusan
        pengadilan.
      - >-
        ['(1) setiap orang yang melakukan persetubuhan dengan orang yang bukan
        suami atau istrinya, dipidana  karena perzinaan, dengan pidana penjara
        paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak  kategori
        ii.', '(2) terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        tidak dilakukan penuntutan kecuali atas  pengaduan: a. suami atau istri
        bagi orang yang terikat perkawinan. b. orang tua atau anaknya bagi orang
        yang tidak terikat perkawinan.', '(3) terhadap pengaduan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku ketentuan sebagaimana  dimaksud
        dalam pasal 25 , pasal 26 , dan pasal 30 .']
      - >-
        ['(1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara untuk kegiatan
        angkutan udara wajib memiliki sertifikat. (21 sertifrkat sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. sertilikat operator pesawat
        udara (air operator ertificatel yang diberikan kepada badan hukum
        indonesia yang mengoperasikan pesawat udara sipil untuk angkutan udara
        niaga; atau b. sertiflkat pengoperasian pesawat udara (operating
        ertificatel yang diberikan kepada orang atau badan hukum indonesia yang
        pesawat udara sipil untuk angkutan udara bukan niaga. 19. pasal 42
        dihapus. 21. ketentuan. . . sk no 132655 a 20. pasal 43 dihapus.
        presiden repuelik indonesia -430- 21. ketentuan pasal 45 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 45 ketentuan lebih lanjut mengenai tata
        cara dan prosedur memperoleh sertifrkat operator pesawat udara atau
        sertilikat pengoperasian pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran
        denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam
        peraturan pemerintah. 22. ketentuan pasal 46 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 46 (1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat
        udara wajib merawat pesawat udara, mesin pesawat udara, baling-baling
        pesawat terbang, dan komponennya untuk mempertahankan keandalan dan
        kelaikudaraan secara berkelanjutan. l2l dalam perawatan pesawat udara,
        mesin pesawat udara, baling-baling pesawat terbang, dan komponennya
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap orang harus membuat program
        perawatan pesawat udara yang disahkan oleh pemerintah pusat. 23.
        ketentuan pasal 47 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 47
        perawatan pesawat udara, mesin pesawat udara, baling-baling pesawat
        terbang, dan komponennya sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 hanya dapat
        dilakukan oleh: a. perusahaan angkutan udara yang telah memiliki
        sertifikat operator pesawat udara; sk no 132656a b. badan . . . presiden
        republik tndonesia -43l- b. badan hukum organisasi perawatan pesawat
        udara yang telah memiliki sertifikat organisasi perawatan pesawat udara
        (approued maintenane organizationl; alau c. personel ahli perawatan
        pesawat udara yang telah memiliki lisensi ahli perawatan pesawat udara
        (aircrafi maintenance engineer licensel. 24. pasal48 dihapus. 25.
        ketentuan pasal 49 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 49
        sertifikat organisasi perawatan pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 47 huruf b dapat diberikan kepada organisasi perawatan pesawat
        udara (approued maintenance organizationl di luar negeri yang memenuhi
        persyaratan setelah memiliki sertifikat organisasi perawatan pesawat
        udara yang diterbitkan oleh otoritas penerbangan negara yang
        bersangkutan. 26. ketentuan pasal 5o diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 50 setiap orang yang melanggar ketentuan perawatan
        pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 dikenai sanksi
        administratif. 27. ketentuan pasal 51 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: sk no 132657a pasal 51 ... preslden repuelik indonesia -432-
        pasal 51 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara, prosedur, dan
        pemberian sertifikat organisasi perawatan pesawat udara dan lisensi ahli
        perawatan pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran denda, dan tata
        cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah.
        28. ketentuan pasal 58 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        58 (1) setiap personel pesawat udara wajib memiliki lisensi atau
        sertifikat kompetensi. (21 personel pesawat udara yang terkait langsung
        dengan pelaksanaan pengoperasian pesawat udara wajib memiliki lisensi
        yang sah dan masih berlaku. 29. ketentuan pasal 60 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 60 lisensi personel pesawat udara yang
        diberikan oleh negara lain dapat diakui melalui pengesahan oleh
        pemerintah pusat. 30. ketentuan pasal 61 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 61 ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan,
        tata cara dan prosedur memperoleh lisensi, atau sertiflkat kompetensi
        dan lembaga pendidikan dan/ atau sertifikat pelatihan diatur dalam
        peraturan pemerintah. 3l.ketentuan... sk no 132658 a presiden blik
        indonesia -433- 31. ketentuan pasal 63 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 63 (1) pesawat udara yang dapat dioperasikan di wilayah
        negara kesatuan republik indonesia hanya pesawat udara indonesia. (21
        dalam keadaan tertentu dan dalam waktu terbatas pesawat udara sipil
        asing dapat dioperasikan setelah mendapat persetqiuan dari pemerintah
        pusat. (3) pesawat udara sipil asing dapat dioperasikan oleh perusahaan
        angkutan udara nasional untuk penerbangan ke dan dari luar negeri
        setelah adanya perjanj ian antarnegara. (4) pesawat udara sipil asing
        yang akan dioperasikan sebagaimana dimaksud pada ayat', '(2) dan ayat',
        "(3) harus memenuhi persyaratan kelaikudaraan yang ditetapkan oleh
        pemerintah pusat. (5) setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1), ayat (2]', ayat (3), dan ayat", '(4) dikenai
        sanksi administratif. (6) ketentuan lebih lanjut mengenai pengoperasian
        pesawat udara sipil serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara
        pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat', "(5)
        diatur dalam peraturan pemerintah. 32. pasal 64 dihapus. 33. ketentuan
        pasal 66 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 66. . . sk no
        132659a presiden republik indonesia -434- pasal 66 ketentuan lebih
        lanjut mengenai proses dan biaya sertifikasi diatur dalam peraturan
        pemerintah. 34. ketentuan pasal 67 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 67 (1) setiap pesawat udara negara yang dibuat dan
        dioperasikan harus memenuhi standar rancang bangun, produksi, dan
        kelaikudaraan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 pesawat udara
        negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki tanda
        identitas. 35. ketentuan pasal 84 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 84 angkutan udara niaga dalam negeri hanya dapat
        dilakukan oleh badan usaha angkutan udara nasional yang telah memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat. 36. ketentuan pasal 85 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 85 (1) angkutan udara niaga
        berjadwal dalam negeri hanya dapat dilakukan oleh badan usaha angkutan
        udara nasional yang telah memenuhi perizinan berusaha terkait angkutan
        udara niaga berjadwal. (2) badan . . . sk no 132660 a presiden repuelik
        indonesia -435- (21 badan usaha angkutan udara niaga berjadwal
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam keadaan tertentu dan bersifat
        sementara dapat melakukan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. (3) kegiatan
        angkutan udara niaga tidak berjadwal yang bersifat sementara sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan atas inisiatif instansi
        pemerintah dan/atau atas permintaan badan usaha angkutan udara niaga
        nasional. (41 kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal yang
        dilaksanakan oleh badan usaha angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) tidak menyebabkan terganggunya pelayanan pada
        rute yang menjadi tanggung jawabnya dan pada rute yang masih dilayani
        oleh badan usaha angkutan udara niaga berjadwal lainnya. 37. ketentuan
        pasal 91 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 91 (1) angkutan
        udara niaga tidak berjadwal dalam negeri hanya dapat dilakukan oleh
        badan usaha angkutan udara nasional yang telah memenuhi peizinar,
        berusaha dari pemerintah pusat. (21 angkutan udara niaga tidak berjadwal
        dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan
        persetujuan terbang fflight approuatl. (3) badan usaha angkutan udara
        niaga tidak berjadwal dalam negeri dalam keadaan tertentu dan bersifat
        sementara dapat melakukan kegiatan angkutan udara niaga berjadwal
        setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. sk no 132661a (4)
        kegiatan. . . presiden repijblik indonesia -436- (41 kegiatan angkutan
        udara niaga berjadwal yang bersifat sementara sebagaimana dimaksud pada
        ayat (3) dapat dilakukan atas inisiatif instansi pemerintah, pemerintah
        daerah, dan/ atau badan usaha angkutan udara niaga nasional. (5)
        kegiatan angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud pada ayat
        (3) tidak menyebabkan terganggunya pelayanan angkutan udara pada rute
        yang masih dilayani oleh badan usaha angkutan udara niaga befadwal
        lainnya. 38. ketentuan pasal 93 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 93 (1) kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar
        negeri yang dilakukan oleh badan usaha angkutan udara niaga nasional
        wajib mendapatkan persetujuan terbang dari pemerintah pusat. (21
        kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri yang dilakukan
        oleh perusahaan angkutan udara niaga asing wajib mendapatkan persetujuan
        terbang dari pemerintah pusat. 39. ketentuan pasal 94 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 94 (1) kegiatan angkutan udara niaga
        tidak berjadwal oleh perusahaan angkutan udara asing yang melayani rute
        ke indonesia dilarang mengangkut penumpang dari wilayah indonesia,
        kecuali penumpang sendiri yang diturunkan pada penerbangan sebelumnya.
        (21 kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal oleh perusahaan
        angkutan udara asing yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada
        ayat (1) dikenai sanksi administratif. sk no 132662a (3) ketentuan. . .
        presiden republik indonesia -437- (3) ketentuan lebih lanjut mengenai
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan
        pemerintah. 40. ketentuan pasal 95 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 95 (1) perusahaan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        asing khusus pengangkut kargo yang melayani rute ke indonesia dilarang
        mengangkut kargo dari wilayah indonesia, kecua-li dengan persetujuan
        pemerintah pusat. (21 perusahaan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        asing khusus pengangkut kargo yang melanggar ketentuan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif. (3) ketentuan lebih
        lanjut mengenai kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan
        sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam
        peraturan pemerintah. 41. ketentuan pasal 96 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 96 ketentuan lebih lanjut mengenai angkutan udara
        niaga, kerja sama angkutan udara, dan sanksi administratif termasuk
        prosedur dan tata cara pengenaan, diatur dalam peraturan pemerintah. 42.
        ketentuan pasal 97 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 97...
        sk no 132663 a presiden republik indonesia -438- pasal 97 (1) pelayanan
        yang diberikan badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dalam
        menjalankan kegiatannya dapat dikelompokkan paling sedikit dalam: a.
        pelayanan dengan standar maksimum; b. pelayanan dengan standar menengah;
        atau c. pelayanan dengan standar minimum. (21 badan usaha angkutan udara
        niaga berjadwal dalam menyediakan pelayanan sebagaimana dimaksud pada
        ayat (1) harus memberitahukan kepada pengguna jasa tentang kondisi dan
        spesifikasi pelayanan yang disediakan. 43. pasal 99 dihapus. 44.
        ketentuan pasal 100 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 10o
        ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan badan usaha angkutan udara
        niaga berjadwal diatur dalam peraturan pemerintah. 45. ketentuan pasal
        1o9 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 109 kegiatan
        angkutan udara niaga sebagaimana dimaksud dalam pasal 1o8 dilakukan oleh
        badan usaha di bidang angkutan udara niaga nasional setelah memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat. 46. pasal 110 dihapus. 47.
        pasal 111 . . . sk no 132664a prestden republik tndonesia -439- 47.
        pasal 111dihapus. 48. ketentuan pasal 112 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 112 perizinan berusaha sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 109 berlaku selama pemegan gperizinan berusaha masih menjalankan
        kegiatan angkutan udara secara nyata dengan terus menerus mengoperasikan
        pesawat udara sesuai dengan perizinan berusaha yang diberikan. 49.
        ketentuan pasal 113 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 113
        (1) perizinan berusaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 109 dilarang
        dipindahtangankan kepada pihak lain sebelum melakukan kegiatan usaha
        angkutan udara secara nyata dengan mengoperasikan pesawat udara sesuai
        dengan perizinan berusaha yang diberikan. l2l pemegang perizinan
        berusaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        dikenai sanksi administratif berupa pencabutan perizinan berusaha. 50.
        ketentuan pasal 114 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 114
        ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, tata cara, dan prosedur
        memperoleh perizinar: berusaha terkait angkutan udara niaga diatur dalam
        peraturan pemerintah. 51. ketentuan pasal 118 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 118.. . sk no 132665 a presiden republik
        indonesia -440- pasal 118 (1) pemegang perizinan berusaha angkutan udara
        niaga wajib: a. melakukan kegiatan angkutan udara secara nyata paling
        lambat 12 (dua belas) bulan sejak perizinan berusaha diterbitkan dengan
        mengoperasikan minimal jumlah pesawat udara yang dimiliki dan dikuasai
        sesuai dengan lingkup usaha atau kegiatannya; b. memiliki dan menguasai
        pesawat udara dengan jumlah tertentu; c. mematuhi ketentuan wajib
        angkut, penerbangan sipil, dan ketentuan lain sesuai dengan peraturan
        perundang-undangan; d. menutup asuransi tanggung jawab pengangkut dengan
        nilai pertanggungan sebesar santunan penumpang angkutan udara niaga yang
        dibuktikan dengan perjanjian penutupan asuransi; e. melayani calon
        penumpang secara adil tanpa diskriminasi atas dasar suku, agama, ras,
        antargolongan, serta strata ekonomi dan sosial; f.  menyerahkan laporan
        kegiatan angkutan udara, termasuk keterlambatan dan pembatalan
        penerbangan setiap jangka waktu tertentu kepada pemerintah pusat; c.
        menyerahkan laporan kinerja keuangan yang telah diaudit oleh kantor
        akuntan publik terdaftar yang sekurang-kurangnya memuat neraca, laporan
        rugi laba, arus kas, dan perincian biaya, setiap tahun paling lambat
        akhir bulan april tahun berikutnya kepada pemerintah pusat; h.
        melaporkan apabila terjadi perubahan penanggung jawab atau pemilik badan
        usaha angkutan udara niaga, domisili badan usaha angkutan udara niaga,
        dan pemilikan pesawat udara kepada pemerintah pusat; dan i. memenuhi . .
        . sk no 132666a pres]den repualik indones -441 - i.  memenuhi standar
        pelayanan yang ditetapkan. (21 pemegang izin kegiatan angkutan udara
        bukan niaga yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah,
        badan usaha, dan lembaga tertentu wajib: a. mengoperasikan pesawat udara
        paling lambat 12 (dua belas) bulan setelah izin kegiatan diterbitkan; b.
        mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang penerbangan sipil dan
        peraturan perundang-undangan lain yang berlaku; c. menyerahkan laporan
        kegiatan angkutan udara setiap bulan paling lambat tanggal 10 (sepuluh)
        bulan berikutnya kepada pemerintah pusat; dan d. melaporkan apabila
        terjadi perubahan penanggung jawab, kepemilikan pesawat udara, dan/ atau
        domisili kantor pusat kegiatan kepada pemerintah pusat. (3) pemegang
        izin kegiatan angkutan udara bukan niaga yang dilakukan oleh orang
        perseorangan wajib: a. mengoperasikan pesawat udara paling lambat 12
        (dua belas) bulan setelah izin diterbitkan; b. mematuhi peraturan
        perundang-undangan di bidang penerbangan sipil dan peraturan
        pemndang-undangan lain; c. menyerahkan laporan kegiatan angkutan udara
        setiap bulan paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya kepada
        pemerintah pusat; dan d. melaporkan apabila terjadi perubahan penanggung
        jawab, kepemilikan pesawat udara, dan/ atau domisili pemegang izir,
        kepada pemerintah pusat. 52. ketentuan pasal 119 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 119... sk no 132667 a presiden republtk
        indonesia -442- pasal 119 (1) dalam hal pemegang perlinan berusaha
        angkutan udara niaga dan pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan
        niaga tidak melakukan kegiatan angkutan udara secara nyata dengan
        pesawat udara selama 12 (dua belas) bulan berturut-turut sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 118 ayat (1) hurufa, ayat(21 huruf a dan ayat (3)
        huruf a, peizinan berusaha angkutan udara niaga atau izin kegiatan
        angkutan udara bukan niaga yang diterbitkan tidak berlaku dengan
        sendirinya. (21 pemegang perizinan berusaha angkutan udara niaga dan
        pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan niaga yang melanggar
        ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 118 dikenai sanksi
        administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (21 diatur dalam peraturan pemerintah. 53. ketentuan
        pasal 120 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 12o ketentuan
        lebih lanjut mengenai kewajiban pemegang perlinan berusaha, persyaratan,
        dan sanksi administratif termasuk prosedur dan tata cara pengenaan
        sanksi diatur dalam peraturan pemerintah. 54. ketentuan pasal 130 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 13o . . . sk no 132668 a
        presiden repuelik indonesia -443- pasal 130 ketentuan lebih lanjut
        mengenai tarif angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi
        dan angkutan udara perintis serta sanksi administratif, termasuk
        prosedur dan tata cara pengenaan sanksi diatur dalam peraturan
        pemerintah. 55. pasal 131 dihapus. 56. pasal 132 dihapus. 57. pasal 133
        dihapus. 58. ketentuan pasal 137 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 137 ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 136 ayat (5) diatur dalam peraturan pemerintah. 59.
        ketentuan pasal 138 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 138
        (1) pemilik, agen ekspedisi muatan pesawat udara, atau pengirim yang
        menyerahkan barang khusus dan/atau berbahaya wajib menyampaikan
        pemberitahuan kepada pengelola pergudangan dan/ atau badan usaha
        angkutan udara sebelum dimuat ke dalam pesawat udara. sk no 132669a (2)
        badan . . . presiden republik indonesia -444- (21 badan usaha bandar
        udara, unit penyelenggara bandar udara, badan usaha pergudangan, atau
        badan usaha angkutan udara niaga yang melakukan kegiatan pengangkutan
        barang khusus dan/atau barang berbahaya wajib menyediakan tempat
        penyimpanan atau penumpukan serta bertanggung jawab terhadap penyusunan
        sistem dan prosedur penanganan barang khusus dan/ atau berbahaya selama
        barang tersebut belum dimuat ke dalam pesawat udara. (3) pemilik, agen
        ekspedisi muatan pesawat udara, pengirim, badan usaha bandar udara, unit
        penyelenggara bandar udara, badan usaha pergudangan, atau badan usaha
        angkutan udara niaga yang melanggar ketentuan pengangkutan barang
        berbahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikenai sanksi
        administratif. (41 ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (3) diatur dalam peraturan pemerintah. 60. ketentuan
        pasal 139 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 139 ketentuan
        lebih lanjut mengenai pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya
        serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 61. ketentuan pasal 205
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: sk no 099970 a pasal 2o5. . .
        presiden republik indonesia -445- pasal 2o5 (1) daerah lingkungan
        kepentingan bandar udara sebagaimana dimaksud dalam pasal 202 huruf g
        merupakan daerah di luar lingkungan kerja bandar udara yang digunakan
        untuk menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan serta kelancaran
        aksesibilitas penumpang dan kargo. (21 pemanfaatan daerah lingkungan
        kepentingan bandar udara harus mendapatkan persetqjuan dari pemerintah
        pusat. 62. pasal215 dihapus 63. ketentuan pasal 218 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 218 ketentuan lebih lanjut mengenai
        keselamatan dan keamanan penerbangan, pelayanan jasa bandar udara, serta
        tata cara dan prosedur untuk memperoleh sertifikat bandar udara atau
        register bandar udara dan kriteria, jenis, besaran denda, serta tata
        cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah.
        64. ketentuan pasal 219 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        219 (1) setiap badan usaha bandar udara atau unit penyelenggara bandar
        udara wajib menyediakan fasilitas bandar udara yang memenuhi persyaratan
        keselamatan dan  keamanan penerbangan serta pelayanan jasa bandar udara
        sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. sk no 137364a (2)
        setiap. . . presiden republik indonesia -446- (21 setiap badan usaha
        bandar udara atau unit penyelenggara bandar udara yang melanggar
        ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi
        administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. 65. ketentuan
        pasal 221 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 221 ketentuan
        lebih lanjut mengenai pengoperasian fasilitas bandar udara serta
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 66. ketentuan pasal 222
        ditubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal222 (1) setiap personel
        bandar udara wajib memiliki lisensi atau sertifrkat kompetensi. (21
        sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh
        melalui pendidikan dan/ atau pelatihan yang diselenggarakan lembaga yang
        telah diakreditasi oleh pemerintah pusat. 67. ketentuan pasal 224 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 224 lisensi personel bandar
        udara yang diberikan oleh negara lain dinyatakan sah melalui pengesahan
        atau validasi oleh pemerintah pusat. sk no 099123 a 68. ketentuan . . .
        presiden republik indonesia -447- 68. ketentuan pasal 225 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasaj225 ketentuan lebih lanjut
        mengenai persyaratan, tata cara dan prosedur memperoleh lisensi, lembaga
        pendidikan dan/atau pelatihan, serta kriteria, jenis, besaran denda, dan
        tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan
        pemerintah. 69. ketentuan pasal 233 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 233 (1) pelayanan jasa kebandarudaraan sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 232 ayat (2) dapat diselenggarakan oleh: a. badan
        usaha bandar udara untuk bandar udara yang diirsahakan secara komersial
        setelah memenuhi penzrnan berusaha dari pemerintah pusat; atau b. unit
        penyelenggara bandar udara untuk bandar udara yang belum diusahakan
        secara komersial yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada
        pemerintah pusat danlatau pemerintah daerah sesuai kewenangan. (21
        perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak
        dapat dipindahtangankan. (3) pelayanan jasa terkait bandar udara
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 232 ayat (3) dapat diselenggarakan oleh
        orang perseorangan warga negara indonesia dan/ atau badan hukum
        indonesia. (41 badan usaha bandar udara  yang memindahtangankan
        perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi
        administratif berupa pencabutan peizinan berusaha. sk no099124a
        70.ketentuan... presiden reptjelik indonesia -444- 70. ketentuan pasal
        237 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 237 pemerintah pusat
        mengembangkan usaha kebandarudaraan melalui penanaman modal sesuai
        dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal.
        71. ketentuan pasal 238 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        238 ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan pengusahaan di bandar
        udara, serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan
        sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 72. ketent.tan
        pasal 242 diuban' sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 242 ketentuan
        lebih lanjut mengenai tanggung jawab atas kerugian serta kriteria,
        jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif
        diatur dalam peraturan pemerintah. 73. ketentuan pasal247 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasa7247 ... sk no 099125 a presiden
        reptjelik indonesia -449- pasal247 (1) dalam rangka menunjang kegiatan
        tertentu, instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan/ atau badan
        hukum indonesia dapat membangun bandar udara khusus setelah mendapat
        persetujuan dari pemerintah pusat. (21 ketentuan keselamatan dan 
        keamanan penerbangan pada bandar udara khusus berlaku sebagaimana
        ketentuan pada bandar udara. 74. ketentuan pasai249 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 249 bandar udara khusus dilarang
        melayani penerbangan langsung dari dan/atau ke luar negeri kecuali dalam
        keadaan tertentu dan bersifat sementara setelah memperoleh persetujuan
        dari pemerintah pusat. 75. ketentuan pasal 250 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 250 bandar udara khusus dilarang digunakan untuk
        kepentingan umum, kecuali dalam keadaan tertentu dengan persetujuan dari
        pemerintah pusat. 76. ketentuan pasal 252 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 252 ketentuan lebih lanjut mengenai persetujuan
        pembangunan dan pengoperasian bandar udara khusus serta perubahan status
        menjadi bandar udara yang dapat melayani kepentingan umum diatur dalam
        peraturan pemerintah. sk no 099126 a 77. ketentuan . . . presiden
        repuelik indones -450- 77. ketentuan pasal 253 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 253 tempat pendaratan dan lepas landas helikopter
        terdiri atas: a. tempat pendaratan dan lepas landas helikopter di
        daratan (surfae leuel heliportl; b. tempat pendaratan dan lepas landas
        helikopter di atas gedung (eleuated leliportl; dan c. tempat pendaratan
        dan lepas landas helikopter di perairan (helideclq. 78. ketentuan pasal
        254 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 254 (1) setiap
        tempat pendaratan dan lepas landas helikopter yang dioperasikan wajib
        memenuhi ketentuan keselamatan penerbangan dan keamanan penerbangan. (21
        tempat pendaratan dan lepas landas helikopter yang telah memenuhi
        ketentuan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        diberikan tanda pendaftaran (registefi oleh pemerintah pusat. 79.
        ketentuan pasal 255 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 255
        ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur pemberian
        persetujuan pembangunan dan pengoperasian tempat pendaratan dan lepas
        landas helikopter diatur dalam peraturan pemerintah. sk no 132670a 8o.
        ketentuan . . . presiden republik indonesia -451 - 80. ketentuan pasal
        275 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 275 (1) lembaga
        penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 271 ayat (2) wajib memiliki sertifikat pelayanan navigasi
        penerbangan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 sertifikat
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada setiap unit 
        pelayanan penyelenggara navigasi penerbangan. (3) unit  pelayanan
        penyelenggara navigasi penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (21
        terdiri atas: a. unit pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara; b.
        unit pelayanan navigasi pendekatan; dan c. unit pelayanan navigasi
        penerbangan jelajah. 81. ketentuan pasal 277 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 277 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan
        prosedur pembentukan dan sertifikasi lembaga penyelenggara pelayanan
        navigasi penerbangan serta biaya pelayanan jasa navigasi penerbangan
        diatur dalam peraturan pemerintah. 82. ketentuan pasal 292 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 292 (1) setiap personel
        navigasi penerbangan wajib memiliki lisensi atau sertifrkat kompetensi.
        sk no 132671a (2) personel ... preslden repualik indonesia -452- (21
        personel navigasi penerbangan yang terkait langsung dengan pelaksanaan
        pengoperasian dan/atau pemeliharaan fasilitas navigasi penerbangan wajib
        memiliki lisensi yang sah dan masih berlaku. 83. ketentuan pasal 294
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal294 lisensi personel
        navigasi penerbangan yang diberikan oleh negara lain dinyatakan sah
        melalui pengesahan atau validasi oleh pemerintah pusat. 84. ketentuan
        pasal 295 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 295 ketentuan
        lebih lanjut mengenai persyaratan, tata cara dan prosedur memperoleh
        lisensi, kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 85. ketentuan pasal 317
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 317 ketentuan lebih
        lanjut mengenai sistem manajemen keselamatan penyedia jasa penerbangan,
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 86. ketentuan pasal 389
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: sk no 132672a pasal 389...
        presioen republik indonesia -453- pasal 389 setiap personel di bidang
        penerbangan yang telah memiliki sertifikat kompetensi sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 388 dapat diberi lisensi oleh pemerintah pusat
        setelah memenuhi persyaratan. 87. ketentuan pasal 392 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 392 ketentuan lebih lanjut mengenai
        sertifikat kompetensi dan lisensi serta penjrusunan program pelatihan
        diatur dalam peraturan pemerintah. 88. ketentuan pasal 409 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 4o9 setiap orang selain yang
        ditentukan dalam pasal 47 yang melakukan perawatan pesawat udara, mesin
        pesawat udara, baling-baling pesawat terbang dan komponennya dipidana
        dengan pidana penjara paling lama i (satu) tahun atau pidana denda
        paling banyak rp200.000.000,o0 (dua ratus juta rupiah). 89. ketentuan
        pasal 414 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 414 setiap
        orang yang mengoperasikan pesawat udara sipil asing di wilayah negara
        kesatuan republik indonesia tanpa persetujuan dari pemerintah pusat
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 63 ayat (2) dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp2.0o0.000.o00,o0 (dua miliar rupiah). 9o. ketentuan pasal 416 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 416 setiap orang yang melakukan
        kegiatan angkutan udara niaga dalam negeri tanpa perizinan berusaha dari
        pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 84 dipidana dengan
        pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling
        banyak rp500.00o.0oo,0o (lima ratus juta rupiah). 9 1. ketentuan . . .
        sk no 096546 a presiden republik indonesia -454- 91. ketentuan pasal 418
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 418 setiap orang yang
        melakukan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri
        tanpa persetujuan terbang dari pemerintah pusat sebagaimana dimaksud
        dalam pasal 93 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
        (satu) tahun atau pidana denda paling banyak rp350.000.0o0,o0 (tiga
        ratus lima puluh juta rupiah). 92. ketentuan pasal 423 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 423 (1) personel bandar udara yang
        mengoperasikan dan/ atau memelihara fasilitas bandar udara tanpa
        memiliki lisensi atau sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 222 yang mengakibatkan timbulnya korban dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak
        rp200.o00.000,0o (dua ratus juta rupiah). (21 dalam hal perbuatan
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). 93.
        ketentuan pasal 426 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 426
        setiap orang yang membangun bandar udara khusus tanpa persetqjuan dari
        pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 247 ayal (1) dipidana
        dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling
        banyak rp1.00o.0o0.o00,00 (satu miliar rupiah). sk no 132674a 94.
        ketentuan . . . presiden repuelik indonesia -455- 94. ketentuan pasal
        427 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 427 setiap orang
        yang mengoperasikan bandar udara khusus dengan melayani penerbangan
        langsung dari dan/atau ke luar negeri tanpa persetujuan dari pemerintah
        pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 249, dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp3.000.00o.000,00 (tiga miliar rupiah). 95. ketentuan pasal 428 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 428 (1) setiap orang yang
        mengoperasikan bandar udara khusus yang digunakan untuk kepentingan umum
        tanpa persetujuan dari pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal
        250 yang mengakibatkan timbulnya korban dipidana dengan pidana penjara
        paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp3.o00.000.000,00 (tiga miliar rupiah). (21 dalam hal tindak pidana
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp15.00o.000.000,00 (lima belas miliar
        rupiah). paragraf 1 1 kesehatan, obat, dan makanan pasal 59 untuk
        memberikan kemudahan bagi masyarakat terutama pelaku usaha dalam
        mendapatkan perizinan berusaha dari sektor kesehatan, obat, dan makanan,
        peraturan pemerintah pengganti undang-undang ini mengubah, menghapus,
        atau menetapkan pengaturan baru beberapa ketentuan yang diatur dalam: a.
        undang-undang nomor 36 tahun 2oo9 tentang kesehatan (iembaran negara
        republik indonesia tahun 2009 nomor 144, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5063); b. undang-undang . . . sk no 132675 a b
        presiden republik indonesia _456_ undang-undang nomor 44 tahun 2009
        tentang rumah sakit (kmbaran negara republik indonesia tahun 2009 nomor
        153, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5072);
        undang-undang nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika (lembaran negara
        republik indonesia tahun 1997 nomor 10, tambahan l,embaran negara
        republik indonesia nomor 3671); undang-undang nomor 35 tahun 2oo9
        tentang narkotika (kmbaran negara republik indonesia tahun 2009 nomor
        143, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5062); dan
        undang-undang nomor 18 tahun 2ol2 te.ntang pangan (kmbaran negara
        republik indonesia tahun 2012 nomor 227, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5360). pasal 60 beberapa ketentuan dalam
        undang-undang nomor 36 tahun 2o09 tentang kesehatan (lembaran negara
        republik indonesia tahun 2009 nomor 144, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5063) diubah sebagai berikut: ketentuan pasal
        30 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 30 (1) fasilitas
        pelayanan kesehatan menurut jenis pelayanannya terdiri atas: a.
        pelayanan kesehatan perseorangan; dan b. pelayanankesehatan masyarakat.
        (21 fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        meliputi: a. pelayanan kesehatan tingkat pertama; b. pelayanan kesehatan
        tingkat kedua; dan c. pelayanan kesehatan tingkat ketiga. c d e 1 sk no
        132676a (3) fasilitas. . . 2 presiden republik indonesla -457- (3)
        fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        dilaksanakan oleh pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta.
        (41 setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib memenuhi perizinan
        berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan
        kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat. ketentuan pasal 35 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 35 ketentuan lebih lanjut mengenai
        fasilitas pelayanan kesehatan dan peizinan berusaha diatur dalam
        peraturan pemerintah. ketentuan pasal 6o diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 60 (1) setiap orang yang melakukan pelayanan
        kesehatan tradisional yang menggunakan alat dan teknologi wajib memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norrna, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 ketentuan lebih lanjut
        mengenai peizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
        dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 1o6 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: 3 4 pasal 1o6 . . . sk no 132677a 5 presiden republik
        indonesia -458- pasal 106 (1) setiap orang yang memproduksi dan/ atau
        mengedarkan sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan harus memenuhi
        per2inan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 sediaan farmasi dan/ atau
        alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah memenuhi perizinan berusaha
        dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya
        berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh
        pemerintah pusat. (3) pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat berwenang mencabut perizinan
        berusaha dan memerintahkan penarikan dari peredaran sediaan farmasi
        dan/atau alat kesehatan yang telah memperoleh perizinan berusaha, yang
        terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/ atau
        kemanfaatan, serta sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan tersebut
        dapat disita dan dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan
        perundang- undangan. (4) ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan
        berusaha terkait sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1), ayat (21, dan ayat (3) diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 111 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 111 (1) makanan dan minuman yang dipergunakan untuk
        masyarakat harus didasarkan pada standar dan/ atau persyaratan
        kesehatan. sk no 132678 a (2) makanan . . . 6 presiden republik
        indonesia -459- (21 makanan dan minuman hanya dapat diedarkan setelah
        memenuhi perizinan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah
        sesuai dengan kewenangannya berdasarkan nonna, standar, prosedur, dan
        kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (3) makanan dan minuman
        yang tidak memenuhi ketentuan standar dan/atau persyaratan kesehatan
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau membahayakan kesehatan
        dilarang untuk diedarkan, serta harus ditarik dari peredaran, dilakukan
        pencabutan perizinan berusaha, dan diamankan/disita untuk dimusnahkan
        sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (41 ketentuan
        lebih lanjut mengenai perizinan bemsaha terkait makanan dan minuman
        sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 182 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 182 (1) pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya melakukan pengawasan terhadap masyarakat dan setiap
        penyelenggara kegiatan yang berhubungan dengan sumber daya di bidang
        kesehatan dan upaya kesehataa berdasarkan norma, standar, prosedur, dan
        kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (2) pemerintah pusat
        atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dalam melakukan
        pengawasan dapat memberikan perizinan berusaha terhadap setiap
        penyelenggaraan upaya kesehatan berdasarkan norma, standar, prosedur,
        dan kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (3) pemerintah pusat
        dalam melaksanakan pengawasan dapat mendelegasikan pengawasan kepada
        pemerintah daerah dan mengikutsertakan masyarakat. 7. ketentuan . . . sk
        no 132679 a 7 presiden republik indonesia _460_ ketentuan pasal 183
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 183 pemerintah pusat
        atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud
        dalam pasal 182 dalam melaksanakan tugasnya dapat mengangkat tenaga
        pengawas dengan tugas pokok untuk melakukan pengawasan terhadap segala
        sesuatu yang berhubungan dengan sumber daya di bidang kesehatan dan
        upaya kesehatan. ketentuan pasal 187 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 187 ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan dalam
        penyelenggaraan upaya di bidang kesehatan diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 188 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 188 pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan
        kewenangannya berdasarkan norna, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat dapat mengambil tindakan administratif
        terhadap tenaga kesehatan dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan yang
        melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. 1o.
        ketentuan pasal 197 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 197.
        . . 8 9 sk no 132680a presiden republik indonesia -461 - 1 pasal 197
        setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan
        farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki perizinan berusaha
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 1o6 ayat (1) dan/atau ayat (21,
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus
        juta rupiah). pasal 61 beberapa ketentuan dalam undang-undang nomor 44
        tahun 2009 tentang rumah sakit (lembaran negara republik indonesia tahun
        2009 nomor 153, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5o72)
        diubah sebagai berikut: ketentuan pasal 17 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 17 (1) rumah sakit yang tidak memenuhi
        persyaratan sebagai6411s dimaksud dalam pasal 7, pasal 8, pasal 9, pasal
        10, pasal 11, pasal 12, pasal 13, pasal 14, pasal 15, atau pasal 16
        dikenai sanksi administratif berupa: a. peringatantertulis; b.
        penghentian sementarakegiatan; c. dendaadministratif; d. pembekuan
        peizinan berusaha; dan/atau e. pencabutan penzinan berusaha. (21
        ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis, besaran denda, dan tata
        cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 24 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: 2 sk no 132681a pasaj24... 3 presiden republik
        indonesia -462- pasal 24 (1) pemerintah pusat menetapkan klasilikasi
        rumah sakit berdasarkan kemampuan pelayanan, fasilitas kesehatan, sarana
        penunjang, dan sumber daya manusia. (21 ketentuan lebih lanjut mengenai
        klasifikasi rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam
        peraturan pemerintah. ketentuan pasal 25 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 25 (1) setiap penyelenggara rumah sakit wajib
        memenuhi perizinan berusaha. (21 setiap penyelenggara rumah sakit yang
        tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai
        sanksi administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai tala cara
        pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
        dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 26 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 26 (1) peizitan berusaha terkait rumah sakit
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 diberikan oleh pemerintah pusat dan
        pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan klasifikasi
        rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam pasal 24. (21 pelaksanaan
        perizinan berusaha terkait rumah sakit oleh pemerintah daerah
        dilaksanakan sesuai dengan norrna, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat. 4 sk no 132682a 5. ketentuan . . . 5
        presiden republik indonesia -463- ketentuan pasal 27 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 27 perizinan berusaha terkait rumah
        sakit sebagaimana dimaksud dalam pasa1 25 dapat dicabut jika: a. habis
        masa berlakunya; b. tidak lagi memenuhi persyaratan dan standar; c.
        terbukti melakukan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan
        perundang-undangan; dan/ atau d. atas perintah pengadilan dalam rangka
        penegakan hukum. ketentuan pasal 28 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 28 ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan berusaha
        terkait rumah sakit diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal
        29 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 29 (1) setiap rumah
        sakit mempunyai kewajiban: a. memberikan informasi yang benar tentang
        pelayanan rumah sakit kepada masyarakat; b. memberikan pelayanan
        kesehatan y€rng aman, bermutu, anti diskriminasi, dan efektif dengan
        mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah
        sakit; c. memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan
        kemampuan pelayanannya; 6 7 sk no 132683 a d. berperan . . . presiden
        repuelik indonesia -464- d. berperan aktif dalam memberikan pelayanan
        kesehatan pada bencana sesuai dengan kemampuan pelayanannya; e.
        menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau
        miskin; f.  melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan
        fasilitas pelayanan bagi pasien tidak mampu atau miskin, pelayanan gawat
        darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan bagi korban bencana
        dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan; g.
        membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di
        rumah sakit sebagai acuan dalam melayani pasien; h. menyelenggarakan
        rekam medis; i.  menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara
        lain sarana ibadah, tempat parkir, ruang tunggu, sarana untuk penyandang
        disabilitas, wanita menyusui, anak-anak, dan lanjut usia; j. 
        melaksanakan sistem rujukan; k. menolak keinginan pasien yang
        bertentangan dengan standar profesi dan etika serta ketentuan peraturan
        perundang-undangan; 1. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur
        mengenai hak dan kewajiban pasien; m. menghormati dan melindungi hak
        pasien; n. melaksanakan etika rumah sakit; o. memiliki sistem pencegahan
        kecelakaan dan penanggulangan bencana; p. melaksanakan program
        pemerintah di bidang kesehatan, baik secara regional maupun nasional; q.
        membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau
        kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya; r.  menjrusun dan
        melaksanakan peraturan internal rumah sakit; s. melindungi . . . sk no
        132684a presiden repuelik indones]a -465- 8 s. melindungi dan memberikan
        bantuan hukum bagi semua petugas rumah sakit dalam melaksanakan tugas;
        dan t.  memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan
        tanpa rokok. (21 pelanggaran atas kewajiban s6lagai1n4n4 dimaksud pada
        ayal (1) dikenai sanksi administratif berupa: a. teguran; b. teguran
        tertulis; c. denda; dan/atau d. pencabutan per:ainan berusaha. (3)
        ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban rumah sakit sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) dan pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan
        pasal 40 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 40 (1) dalam
        upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit, wajib dilakukan akreditasi
        secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali. (21 akreditasi rumah sakit
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu lembaga
        independen, baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar
        akreditasi yang berlaku. (3) lembaga independen sebagaimana dimaksud
        pada ayat (21 ditetapkan oleh pemerintah pusat. (41 ketentuan lebih
        lanjut mengenai akreditasi rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat
        (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. 9. ketentuan . . .
        sk no 132685 a 9 presiden repuelik indonesia -466- ketentuan pasal 54
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 54 (1) pemerintah pusat
        dan pemerintah daerah dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat melakukan pembinaan dan pengawasan
        terhadap rumah sakit dengan melibatkan organisasi profesi, asosiasi
        perumahsakitan, dan  organisasi kemasyarakatan lainnya sesuai dengan
        tugas dan fungsi masing-masing. (21 pembinaan dan pengawasan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk: a. pemenuhan kebutuhan pelayanan
        kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat; b. peningkatan mutu pelayanan
        kesehatan; c. keselamatan pasien; d. pengembangan jangkauan pelayanan;
        dan e. peningkatan kemampuan kemandirian rumah sakit. (3) dalam
        melaksanakan tugas pengawasan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah
        sesuai dengan kewenangannya mengangkat tenaga pengawas sesuai kompetensi
        dan keahliannya. (41 tenaga pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
        melaksanakan pengawasan yang bersifat teknis medis dan teknis
        perumahsakitan. (5) dalam rangka pembinaan dan pengawasan, pemerintah
        pusat dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
        (21 dapat mengenakan sanksi administratif berupa: a. teguran; b. teguran
        tertulis; c. denda; dan/atau d. pencabutan perizinan berusaha. sk no
        132686a"]
  - source_sentence: >-
      Saya seorang web developer dan baru-baru ini ada tawaran dari klien untuk
      bekerjasama, yaitu men-develop website judi online/judol. Secara hukum,
      apakah orang yang men-develop sistem website judi online juga terlibat?
      Jika ya, apa jerat hukum membuat website judi online? Sejauh ini, saya
      belum menyetujui tawaran dalam perjanjian kerja sama tersebut.
    sentences:
      - >-
        ['(1)  tersangka berhak segera mendapat pemeriksaan oleh penyidik dan 
        selanjutnya dapat diajukan kepada penuntut umum.', '(2)  tersangka
        berhak perkaranya segera dimajukan ke pengadilan oleh  penuntut umum.']
      - >-
        Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 3 (tiga) tahun terhitung sejak
        tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
        pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran
        Negara Republik Indonesia.
      - >-
        ['(1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara untuk kegiatan
        angkutan udara wajib memiliki sertifikat. (21 sertifrkat sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. sertilikat operator pesawat
        udara (air operator ertificatel yang diberikan kepada badan hukum
        indonesia yang mengoperasikan pesawat udara sipil untuk angkutan udara
        niaga; atau b. sertiflkat pengoperasian pesawat udara (operating
        ertificatel yang diberikan kepada orang atau badan hukum indonesia yang
        pesawat udara sipil untuk angkutan udara bukan niaga. 19. pasal 42
        dihapus. 21. ketentuan. . . sk no 132655 a 20. pasal 43 dihapus.
        presiden repuelik indonesia -430- 21. ketentuan pasal 45 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 45 ketentuan lebih lanjut mengenai tata
        cara dan prosedur memperoleh sertifrkat operator pesawat udara atau
        sertilikat pengoperasian pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran
        denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam
        peraturan pemerintah. 22. ketentuan pasal 46 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 46 (1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat
        udara wajib merawat pesawat udara, mesin pesawat udara, baling-baling
        pesawat terbang, dan komponennya untuk mempertahankan keandalan dan
        kelaikudaraan secara berkelanjutan. l2l dalam perawatan pesawat udara,
        mesin pesawat udara, baling-baling pesawat terbang, dan komponennya
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap orang harus membuat program
        perawatan pesawat udara yang disahkan oleh pemerintah pusat. 23.
        ketentuan pasal 47 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 47
        perawatan pesawat udara, mesin pesawat udara, baling-baling pesawat
        terbang, dan komponennya sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 hanya dapat
        dilakukan oleh: a. perusahaan angkutan udara yang telah memiliki
        sertifikat operator pesawat udara; sk no 132656a b. badan . . . presiden
        republik tndonesia -43l- b. badan hukum organisasi perawatan pesawat
        udara yang telah memiliki sertifikat organisasi perawatan pesawat udara
        (approued maintenane organizationl; alau c. personel ahli perawatan
        pesawat udara yang telah memiliki lisensi ahli perawatan pesawat udara
        (aircrafi maintenance engineer licensel. 24. pasal48 dihapus. 25.
        ketentuan pasal 49 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 49
        sertifikat organisasi perawatan pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 47 huruf b dapat diberikan kepada organisasi perawatan pesawat
        udara (approued maintenance organizationl di luar negeri yang memenuhi
        persyaratan setelah memiliki sertifikat organisasi perawatan pesawat
        udara yang diterbitkan oleh otoritas penerbangan negara yang
        bersangkutan. 26. ketentuan pasal 5o diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 50 setiap orang yang melanggar ketentuan perawatan
        pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 dikenai sanksi
        administratif. 27. ketentuan pasal 51 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: sk no 132657a pasal 51 ... preslden repuelik indonesia -432-
        pasal 51 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara, prosedur, dan
        pemberian sertifikat organisasi perawatan pesawat udara dan lisensi ahli
        perawatan pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran denda, dan tata
        cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah.
        28. ketentuan pasal 58 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        58 (1) setiap personel pesawat udara wajib memiliki lisensi atau
        sertifikat kompetensi. (21 personel pesawat udara yang terkait langsung
        dengan pelaksanaan pengoperasian pesawat udara wajib memiliki lisensi
        yang sah dan masih berlaku. 29. ketentuan pasal 60 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 60 lisensi personel pesawat udara yang
        diberikan oleh negara lain dapat diakui melalui pengesahan oleh
        pemerintah pusat. 30. ketentuan pasal 61 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 61 ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan,
        tata cara dan prosedur memperoleh lisensi, atau sertiflkat kompetensi
        dan lembaga pendidikan dan/ atau sertifikat pelatihan diatur dalam
        peraturan pemerintah. 3l.ketentuan... sk no 132658 a presiden blik
        indonesia -433- 31. ketentuan pasal 63 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 63 (1) pesawat udara yang dapat dioperasikan di wilayah
        negara kesatuan republik indonesia hanya pesawat udara indonesia. (21
        dalam keadaan tertentu dan dalam waktu terbatas pesawat udara sipil
        asing dapat dioperasikan setelah mendapat persetqiuan dari pemerintah
        pusat. (3) pesawat udara sipil asing dapat dioperasikan oleh perusahaan
        angkutan udara nasional untuk penerbangan ke dan dari luar negeri
        setelah adanya perjanj ian antarnegara. (4) pesawat udara sipil asing
        yang akan dioperasikan sebagaimana dimaksud pada ayat', '(2) dan ayat',
        "(3) harus memenuhi persyaratan kelaikudaraan yang ditetapkan oleh
        pemerintah pusat. (5) setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1), ayat (2]', ayat (3), dan ayat", '(4) dikenai
        sanksi administratif. (6) ketentuan lebih lanjut mengenai pengoperasian
        pesawat udara sipil serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara
        pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat', "(5)
        diatur dalam peraturan pemerintah. 32. pasal 64 dihapus. 33. ketentuan
        pasal 66 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 66. . . sk no
        132659a presiden republik indonesia -434- pasal 66 ketentuan lebih
        lanjut mengenai proses dan biaya sertifikasi diatur dalam peraturan
        pemerintah. 34. ketentuan pasal 67 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 67 (1) setiap pesawat udara negara yang dibuat dan
        dioperasikan harus memenuhi standar rancang bangun, produksi, dan
        kelaikudaraan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 pesawat udara
        negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki tanda
        identitas. 35. ketentuan pasal 84 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 84 angkutan udara niaga dalam negeri hanya dapat
        dilakukan oleh badan usaha angkutan udara nasional yang telah memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat. 36. ketentuan pasal 85 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 85 (1) angkutan udara niaga
        berjadwal dalam negeri hanya dapat dilakukan oleh badan usaha angkutan
        udara nasional yang telah memenuhi perizinan berusaha terkait angkutan
        udara niaga berjadwal. (2) badan . . . sk no 132660 a presiden repuelik
        indonesia -435- (21 badan usaha angkutan udara niaga berjadwal
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam keadaan tertentu dan bersifat
        sementara dapat melakukan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. (3) kegiatan
        angkutan udara niaga tidak berjadwal yang bersifat sementara sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan atas inisiatif instansi
        pemerintah dan/atau atas permintaan badan usaha angkutan udara niaga
        nasional. (41 kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal yang
        dilaksanakan oleh badan usaha angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) tidak menyebabkan terganggunya pelayanan pada
        rute yang menjadi tanggung jawabnya dan pada rute yang masih dilayani
        oleh badan usaha angkutan udara niaga berjadwal lainnya. 37. ketentuan
        pasal 91 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 91 (1) angkutan
        udara niaga tidak berjadwal dalam negeri hanya dapat dilakukan oleh
        badan usaha angkutan udara nasional yang telah memenuhi peizinar,
        berusaha dari pemerintah pusat. (21 angkutan udara niaga tidak berjadwal
        dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan
        persetujuan terbang fflight approuatl. (3) badan usaha angkutan udara
        niaga tidak berjadwal dalam negeri dalam keadaan tertentu dan bersifat
        sementara dapat melakukan kegiatan angkutan udara niaga berjadwal
        setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. sk no 132661a (4)
        kegiatan. . . presiden repijblik indonesia -436- (41 kegiatan angkutan
        udara niaga berjadwal yang bersifat sementara sebagaimana dimaksud pada
        ayat (3) dapat dilakukan atas inisiatif instansi pemerintah, pemerintah
        daerah, dan/ atau badan usaha angkutan udara niaga nasional. (5)
        kegiatan angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud pada ayat
        (3) tidak menyebabkan terganggunya pelayanan angkutan udara pada rute
        yang masih dilayani oleh badan usaha angkutan udara niaga befadwal
        lainnya. 38. ketentuan pasal 93 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 93 (1) kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar
        negeri yang dilakukan oleh badan usaha angkutan udara niaga nasional
        wajib mendapatkan persetujuan terbang dari pemerintah pusat. (21
        kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri yang dilakukan
        oleh perusahaan angkutan udara niaga asing wajib mendapatkan persetujuan
        terbang dari pemerintah pusat. 39. ketentuan pasal 94 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 94 (1) kegiatan angkutan udara niaga
        tidak berjadwal oleh perusahaan angkutan udara asing yang melayani rute
        ke indonesia dilarang mengangkut penumpang dari wilayah indonesia,
        kecuali penumpang sendiri yang diturunkan pada penerbangan sebelumnya.
        (21 kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal oleh perusahaan
        angkutan udara asing yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada
        ayat (1) dikenai sanksi administratif. sk no 132662a (3) ketentuan. . .
        presiden republik indonesia -437- (3) ketentuan lebih lanjut mengenai
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan
        pemerintah. 40. ketentuan pasal 95 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 95 (1) perusahaan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        asing khusus pengangkut kargo yang melayani rute ke indonesia dilarang
        mengangkut kargo dari wilayah indonesia, kecua-li dengan persetujuan
        pemerintah pusat. (21 perusahaan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        asing khusus pengangkut kargo yang melanggar ketentuan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif. (3) ketentuan lebih
        lanjut mengenai kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan
        sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam
        peraturan pemerintah. 41. ketentuan pasal 96 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 96 ketentuan lebih lanjut mengenai angkutan udara
        niaga, kerja sama angkutan udara, dan sanksi administratif termasuk
        prosedur dan tata cara pengenaan, diatur dalam peraturan pemerintah. 42.
        ketentuan pasal 97 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 97...
        sk no 132663 a presiden republik indonesia -438- pasal 97 (1) pelayanan
        yang diberikan badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dalam
        menjalankan kegiatannya dapat dikelompokkan paling sedikit dalam: a.
        pelayanan dengan standar maksimum; b. pelayanan dengan standar menengah;
        atau c. pelayanan dengan standar minimum. (21 badan usaha angkutan udara
        niaga berjadwal dalam menyediakan pelayanan sebagaimana dimaksud pada
        ayat (1) harus memberitahukan kepada pengguna jasa tentang kondisi dan
        spesifikasi pelayanan yang disediakan. 43. pasal 99 dihapus. 44.
        ketentuan pasal 100 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 10o
        ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan badan usaha angkutan udara
        niaga berjadwal diatur dalam peraturan pemerintah. 45. ketentuan pasal
        1o9 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 109 kegiatan
        angkutan udara niaga sebagaimana dimaksud dalam pasal 1o8 dilakukan oleh
        badan usaha di bidang angkutan udara niaga nasional setelah memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat. 46. pasal 110 dihapus. 47.
        pasal 111 . . . sk no 132664a prestden republik tndonesia -439- 47.
        pasal 111dihapus. 48. ketentuan pasal 112 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 112 perizinan berusaha sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 109 berlaku selama pemegan gperizinan berusaha masih menjalankan
        kegiatan angkutan udara secara nyata dengan terus menerus mengoperasikan
        pesawat udara sesuai dengan perizinan berusaha yang diberikan. 49.
        ketentuan pasal 113 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 113
        (1) perizinan berusaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 109 dilarang
        dipindahtangankan kepada pihak lain sebelum melakukan kegiatan usaha
        angkutan udara secara nyata dengan mengoperasikan pesawat udara sesuai
        dengan perizinan berusaha yang diberikan. l2l pemegang perizinan
        berusaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        dikenai sanksi administratif berupa pencabutan perizinan berusaha. 50.
        ketentuan pasal 114 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 114
        ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, tata cara, dan prosedur
        memperoleh perizinar: berusaha terkait angkutan udara niaga diatur dalam
        peraturan pemerintah. 51. ketentuan pasal 118 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 118.. . sk no 132665 a presiden republik
        indonesia -440- pasal 118 (1) pemegang perizinan berusaha angkutan udara
        niaga wajib: a. melakukan kegiatan angkutan udara secara nyata paling
        lambat 12 (dua belas) bulan sejak perizinan berusaha diterbitkan dengan
        mengoperasikan minimal jumlah pesawat udara yang dimiliki dan dikuasai
        sesuai dengan lingkup usaha atau kegiatannya; b. memiliki dan menguasai
        pesawat udara dengan jumlah tertentu; c. mematuhi ketentuan wajib
        angkut, penerbangan sipil, dan ketentuan lain sesuai dengan peraturan
        perundang-undangan; d. menutup asuransi tanggung jawab pengangkut dengan
        nilai pertanggungan sebesar santunan penumpang angkutan udara niaga yang
        dibuktikan dengan perjanjian penutupan asuransi; e. melayani calon
        penumpang secara adil tanpa diskriminasi atas dasar suku, agama, ras,
        antargolongan, serta strata ekonomi dan sosial; f.  menyerahkan laporan
        kegiatan angkutan udara, termasuk keterlambatan dan pembatalan
        penerbangan setiap jangka waktu tertentu kepada pemerintah pusat; c.
        menyerahkan laporan kinerja keuangan yang telah diaudit oleh kantor
        akuntan publik terdaftar yang sekurang-kurangnya memuat neraca, laporan
        rugi laba, arus kas, dan perincian biaya, setiap tahun paling lambat
        akhir bulan april tahun berikutnya kepada pemerintah pusat; h.
        melaporkan apabila terjadi perubahan penanggung jawab atau pemilik badan
        usaha angkutan udara niaga, domisili badan usaha angkutan udara niaga,
        dan pemilikan pesawat udara kepada pemerintah pusat; dan i. memenuhi . .
        . sk no 132666a pres]den repualik indones -441 - i.  memenuhi standar
        pelayanan yang ditetapkan. (21 pemegang izin kegiatan angkutan udara
        bukan niaga yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah,
        badan usaha, dan lembaga tertentu wajib: a. mengoperasikan pesawat udara
        paling lambat 12 (dua belas) bulan setelah izin kegiatan diterbitkan; b.
        mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang penerbangan sipil dan
        peraturan perundang-undangan lain yang berlaku; c. menyerahkan laporan
        kegiatan angkutan udara setiap bulan paling lambat tanggal 10 (sepuluh)
        bulan berikutnya kepada pemerintah pusat; dan d. melaporkan apabila
        terjadi perubahan penanggung jawab, kepemilikan pesawat udara, dan/ atau
        domisili kantor pusat kegiatan kepada pemerintah pusat. (3) pemegang
        izin kegiatan angkutan udara bukan niaga yang dilakukan oleh orang
        perseorangan wajib: a. mengoperasikan pesawat udara paling lambat 12
        (dua belas) bulan setelah izin diterbitkan; b. mematuhi peraturan
        perundang-undangan di bidang penerbangan sipil dan peraturan
        pemndang-undangan lain; c. menyerahkan laporan kegiatan angkutan udara
        setiap bulan paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya kepada
        pemerintah pusat; dan d. melaporkan apabila terjadi perubahan penanggung
        jawab, kepemilikan pesawat udara, dan/ atau domisili pemegang izir,
        kepada pemerintah pusat. 52. ketentuan pasal 119 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 119... sk no 132667 a presiden republtk
        indonesia -442- pasal 119 (1) dalam hal pemegang perlinan berusaha
        angkutan udara niaga dan pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan
        niaga tidak melakukan kegiatan angkutan udara secara nyata dengan
        pesawat udara selama 12 (dua belas) bulan berturut-turut sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 118 ayat (1) hurufa, ayat(21 huruf a dan ayat (3)
        huruf a, peizinan berusaha angkutan udara niaga atau izin kegiatan
        angkutan udara bukan niaga yang diterbitkan tidak berlaku dengan
        sendirinya. (21 pemegang perizinan berusaha angkutan udara niaga dan
        pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan niaga yang melanggar
        ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 118 dikenai sanksi
        administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (21 diatur dalam peraturan pemerintah. 53. ketentuan
        pasal 120 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 12o ketentuan
        lebih lanjut mengenai kewajiban pemegang perlinan berusaha, persyaratan,
        dan sanksi administratif termasuk prosedur dan tata cara pengenaan
        sanksi diatur dalam peraturan pemerintah. 54. ketentuan pasal 130 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 13o . . . sk no 132668 a
        presiden repuelik indonesia -443- pasal 130 ketentuan lebih lanjut
        mengenai tarif angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi
        dan angkutan udara perintis serta sanksi administratif, termasuk
        prosedur dan tata cara pengenaan sanksi diatur dalam peraturan
        pemerintah. 55. pasal 131 dihapus. 56. pasal 132 dihapus. 57. pasal 133
        dihapus. 58. ketentuan pasal 137 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 137 ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 136 ayat (5) diatur dalam peraturan pemerintah. 59.
        ketentuan pasal 138 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 138
        (1) pemilik, agen ekspedisi muatan pesawat udara, atau pengirim yang
        menyerahkan barang khusus dan/atau berbahaya wajib menyampaikan
        pemberitahuan kepada pengelola pergudangan dan/ atau badan usaha
        angkutan udara sebelum dimuat ke dalam pesawat udara. sk no 132669a (2)
        badan . . . presiden republik indonesia -444- (21 badan usaha bandar
        udara, unit penyelenggara bandar udara, badan usaha pergudangan, atau
        badan usaha angkutan udara niaga yang melakukan kegiatan pengangkutan
        barang khusus dan/atau barang berbahaya wajib menyediakan tempat
        penyimpanan atau penumpukan serta bertanggung jawab terhadap penyusunan
        sistem dan prosedur penanganan barang khusus dan/ atau berbahaya selama
        barang tersebut belum dimuat ke dalam pesawat udara. (3) pemilik, agen
        ekspedisi muatan pesawat udara, pengirim, badan usaha bandar udara, unit
        penyelenggara bandar udara, badan usaha pergudangan, atau badan usaha
        angkutan udara niaga yang melanggar ketentuan pengangkutan barang
        berbahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikenai sanksi
        administratif. (41 ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (3) diatur dalam peraturan pemerintah. 60. ketentuan
        pasal 139 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 139 ketentuan
        lebih lanjut mengenai pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya
        serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 61. ketentuan pasal 205
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: sk no 099970 a pasal 2o5. . .
        presiden republik indonesia -445- pasal 2o5 (1) daerah lingkungan
        kepentingan bandar udara sebagaimana dimaksud dalam pasal 202 huruf g
        merupakan daerah di luar lingkungan kerja bandar udara yang digunakan
        untuk menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan serta kelancaran
        aksesibilitas penumpang dan kargo. (21 pemanfaatan daerah lingkungan
        kepentingan bandar udara harus mendapatkan persetqjuan dari pemerintah
        pusat. 62. pasal215 dihapus 63. ketentuan pasal 218 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 218 ketentuan lebih lanjut mengenai
        keselamatan dan keamanan penerbangan, pelayanan jasa bandar udara, serta
        tata cara dan prosedur untuk memperoleh sertifikat bandar udara atau
        register bandar udara dan kriteria, jenis, besaran denda, serta tata
        cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah.
        64. ketentuan pasal 219 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        219 (1) setiap badan usaha bandar udara atau unit penyelenggara bandar
        udara wajib menyediakan fasilitas bandar udara yang memenuhi persyaratan
        keselamatan dan  keamanan penerbangan serta pelayanan jasa bandar udara
        sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. sk no 137364a (2)
        setiap. . . presiden republik indonesia -446- (21 setiap badan usaha
        bandar udara atau unit penyelenggara bandar udara yang melanggar
        ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi
        administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. 65. ketentuan
        pasal 221 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 221 ketentuan
        lebih lanjut mengenai pengoperasian fasilitas bandar udara serta
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 66. ketentuan pasal 222
        ditubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal222 (1) setiap personel
        bandar udara wajib memiliki lisensi atau sertifrkat kompetensi. (21
        sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh
        melalui pendidikan dan/ atau pelatihan yang diselenggarakan lembaga yang
        telah diakreditasi oleh pemerintah pusat. 67. ketentuan pasal 224 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 224 lisensi personel bandar
        udara yang diberikan oleh negara lain dinyatakan sah melalui pengesahan
        atau validasi oleh pemerintah pusat. sk no 099123 a 68. ketentuan . . .
        presiden republik indonesia -447- 68. ketentuan pasal 225 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasaj225 ketentuan lebih lanjut
        mengenai persyaratan, tata cara dan prosedur memperoleh lisensi, lembaga
        pendidikan dan/atau pelatihan, serta kriteria, jenis, besaran denda, dan
        tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan
        pemerintah. 69. ketentuan pasal 233 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 233 (1) pelayanan jasa kebandarudaraan sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 232 ayat (2) dapat diselenggarakan oleh: a. badan
        usaha bandar udara untuk bandar udara yang diirsahakan secara komersial
        setelah memenuhi penzrnan berusaha dari pemerintah pusat; atau b. unit
        penyelenggara bandar udara untuk bandar udara yang belum diusahakan
        secara komersial yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada
        pemerintah pusat danlatau pemerintah daerah sesuai kewenangan. (21
        perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak
        dapat dipindahtangankan. (3) pelayanan jasa terkait bandar udara
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 232 ayat (3) dapat diselenggarakan oleh
        orang perseorangan warga negara indonesia dan/ atau badan hukum
        indonesia. (41 badan usaha bandar udara  yang memindahtangankan
        perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi
        administratif berupa pencabutan peizinan berusaha. sk no099124a
        70.ketentuan... presiden reptjelik indonesia -444- 70. ketentuan pasal
        237 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 237 pemerintah pusat
        mengembangkan usaha kebandarudaraan melalui penanaman modal sesuai
        dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal.
        71. ketentuan pasal 238 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        238 ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan pengusahaan di bandar
        udara, serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan
        sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 72. ketent.tan
        pasal 242 diuban' sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 242 ketentuan
        lebih lanjut mengenai tanggung jawab atas kerugian serta kriteria,
        jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif
        diatur dalam peraturan pemerintah. 73. ketentuan pasal247 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasa7247 ... sk no 099125 a presiden
        reptjelik indonesia -449- pasal247 (1) dalam rangka menunjang kegiatan
        tertentu, instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan/ atau badan
        hukum indonesia dapat membangun bandar udara khusus setelah mendapat
        persetujuan dari pemerintah pusat. (21 ketentuan keselamatan dan 
        keamanan penerbangan pada bandar udara khusus berlaku sebagaimana
        ketentuan pada bandar udara. 74. ketentuan pasai249 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 249 bandar udara khusus dilarang
        melayani penerbangan langsung dari dan/atau ke luar negeri kecuali dalam
        keadaan tertentu dan bersifat sementara setelah memperoleh persetujuan
        dari pemerintah pusat. 75. ketentuan pasal 250 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 250 bandar udara khusus dilarang digunakan untuk
        kepentingan umum, kecuali dalam keadaan tertentu dengan persetujuan dari
        pemerintah pusat. 76. ketentuan pasal 252 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 252 ketentuan lebih lanjut mengenai persetujuan
        pembangunan dan pengoperasian bandar udara khusus serta perubahan status
        menjadi bandar udara yang dapat melayani kepentingan umum diatur dalam
        peraturan pemerintah. sk no 099126 a 77. ketentuan . . . presiden
        repuelik indones -450- 77. ketentuan pasal 253 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 253 tempat pendaratan dan lepas landas helikopter
        terdiri atas: a. tempat pendaratan dan lepas landas helikopter di
        daratan (surfae leuel heliportl; b. tempat pendaratan dan lepas landas
        helikopter di atas gedung (eleuated leliportl; dan c. tempat pendaratan
        dan lepas landas helikopter di perairan (helideclq. 78. ketentuan pasal
        254 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 254 (1) setiap
        tempat pendaratan dan lepas landas helikopter yang dioperasikan wajib
        memenuhi ketentuan keselamatan penerbangan dan keamanan penerbangan. (21
        tempat pendaratan dan lepas landas helikopter yang telah memenuhi
        ketentuan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        diberikan tanda pendaftaran (registefi oleh pemerintah pusat. 79.
        ketentuan pasal 255 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 255
        ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur pemberian
        persetujuan pembangunan dan pengoperasian tempat pendaratan dan lepas
        landas helikopter diatur dalam peraturan pemerintah. sk no 132670a 8o.
        ketentuan . . . presiden republik indonesia -451 - 80. ketentuan pasal
        275 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 275 (1) lembaga
        penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 271 ayat (2) wajib memiliki sertifikat pelayanan navigasi
        penerbangan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 sertifikat
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada setiap unit 
        pelayanan penyelenggara navigasi penerbangan. (3) unit  pelayanan
        penyelenggara navigasi penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (21
        terdiri atas: a. unit pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara; b.
        unit pelayanan navigasi pendekatan; dan c. unit pelayanan navigasi
        penerbangan jelajah. 81. ketentuan pasal 277 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 277 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan
        prosedur pembentukan dan sertifikasi lembaga penyelenggara pelayanan
        navigasi penerbangan serta biaya pelayanan jasa navigasi penerbangan
        diatur dalam peraturan pemerintah. 82. ketentuan pasal 292 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 292 (1) setiap personel
        navigasi penerbangan wajib memiliki lisensi atau sertifrkat kompetensi.
        sk no 132671a (2) personel ... preslden repualik indonesia -452- (21
        personel navigasi penerbangan yang terkait langsung dengan pelaksanaan
        pengoperasian dan/atau pemeliharaan fasilitas navigasi penerbangan wajib
        memiliki lisensi yang sah dan masih berlaku. 83. ketentuan pasal 294
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal294 lisensi personel
        navigasi penerbangan yang diberikan oleh negara lain dinyatakan sah
        melalui pengesahan atau validasi oleh pemerintah pusat. 84. ketentuan
        pasal 295 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 295 ketentuan
        lebih lanjut mengenai persyaratan, tata cara dan prosedur memperoleh
        lisensi, kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 85. ketentuan pasal 317
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 317 ketentuan lebih
        lanjut mengenai sistem manajemen keselamatan penyedia jasa penerbangan,
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 86. ketentuan pasal 389
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: sk no 132672a pasal 389...
        presioen republik indonesia -453- pasal 389 setiap personel di bidang
        penerbangan yang telah memiliki sertifikat kompetensi sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 388 dapat diberi lisensi oleh pemerintah pusat
        setelah memenuhi persyaratan. 87. ketentuan pasal 392 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 392 ketentuan lebih lanjut mengenai
        sertifikat kompetensi dan lisensi serta penjrusunan program pelatihan
        diatur dalam peraturan pemerintah. 88. ketentuan pasal 409 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 4o9 setiap orang selain yang
        ditentukan dalam pasal 47 yang melakukan perawatan pesawat udara, mesin
        pesawat udara, baling-baling pesawat terbang dan komponennya dipidana
        dengan pidana penjara paling lama i (satu) tahun atau pidana denda
        paling banyak rp200.000.000,o0 (dua ratus juta rupiah). 89. ketentuan
        pasal 414 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 414 setiap
        orang yang mengoperasikan pesawat udara sipil asing di wilayah negara
        kesatuan republik indonesia tanpa persetujuan dari pemerintah pusat
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 63 ayat (2) dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp2.0o0.000.o00,o0 (dua miliar rupiah). 9o. ketentuan pasal 416 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 416 setiap orang yang melakukan
        kegiatan angkutan udara niaga dalam negeri tanpa perizinan berusaha dari
        pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 84 dipidana dengan
        pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling
        banyak rp500.00o.0oo,0o (lima ratus juta rupiah). 9 1. ketentuan . . .
        sk no 096546 a presiden republik indonesia -454- 91. ketentuan pasal 418
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 418 setiap orang yang
        melakukan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri
        tanpa persetujuan terbang dari pemerintah pusat sebagaimana dimaksud
        dalam pasal 93 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
        (satu) tahun atau pidana denda paling banyak rp350.000.0o0,o0 (tiga
        ratus lima puluh juta rupiah). 92. ketentuan pasal 423 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 423 (1) personel bandar udara yang
        mengoperasikan dan/ atau memelihara fasilitas bandar udara tanpa
        memiliki lisensi atau sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 222 yang mengakibatkan timbulnya korban dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak
        rp200.o00.000,0o (dua ratus juta rupiah). (21 dalam hal perbuatan
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). 93.
        ketentuan pasal 426 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 426
        setiap orang yang membangun bandar udara khusus tanpa persetqjuan dari
        pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 247 ayal (1) dipidana
        dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling
        banyak rp1.00o.0o0.o00,00 (satu miliar rupiah). sk no 132674a 94.
        ketentuan . . . presiden repuelik indonesia -455- 94. ketentuan pasal
        427 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 427 setiap orang
        yang mengoperasikan bandar udara khusus dengan melayani penerbangan
        langsung dari dan/atau ke luar negeri tanpa persetujuan dari pemerintah
        pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 249, dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp3.000.00o.000,00 (tiga miliar rupiah). 95. ketentuan pasal 428 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 428 (1) setiap orang yang
        mengoperasikan bandar udara khusus yang digunakan untuk kepentingan umum
        tanpa persetujuan dari pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal
        250 yang mengakibatkan timbulnya korban dipidana dengan pidana penjara
        paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp3.o00.000.000,00 (tiga miliar rupiah). (21 dalam hal tindak pidana
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp15.00o.000.000,00 (lima belas miliar
        rupiah). paragraf 1 1 kesehatan, obat, dan makanan pasal 59 untuk
        memberikan kemudahan bagi masyarakat terutama pelaku usaha dalam
        mendapatkan perizinan berusaha dari sektor kesehatan, obat, dan makanan,
        peraturan pemerintah pengganti undang-undang ini mengubah, menghapus,
        atau menetapkan pengaturan baru beberapa ketentuan yang diatur dalam: a.
        undang-undang nomor 36 tahun 2oo9 tentang kesehatan (iembaran negara
        republik indonesia tahun 2009 nomor 144, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5063); b. undang-undang . . . sk no 132675 a b
        presiden republik indonesia _456_ undang-undang nomor 44 tahun 2009
        tentang rumah sakit (kmbaran negara republik indonesia tahun 2009 nomor
        153, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5072);
        undang-undang nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika (lembaran negara
        republik indonesia tahun 1997 nomor 10, tambahan l,embaran negara
        republik indonesia nomor 3671); undang-undang nomor 35 tahun 2oo9
        tentang narkotika (kmbaran negara republik indonesia tahun 2009 nomor
        143, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5062); dan
        undang-undang nomor 18 tahun 2ol2 te.ntang pangan (kmbaran negara
        republik indonesia tahun 2012 nomor 227, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5360). pasal 60 beberapa ketentuan dalam
        undang-undang nomor 36 tahun 2o09 tentang kesehatan (lembaran negara
        republik indonesia tahun 2009 nomor 144, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5063) diubah sebagai berikut: ketentuan pasal
        30 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 30 (1) fasilitas
        pelayanan kesehatan menurut jenis pelayanannya terdiri atas: a.
        pelayanan kesehatan perseorangan; dan b. pelayanankesehatan masyarakat.
        (21 fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        meliputi: a. pelayanan kesehatan tingkat pertama; b. pelayanan kesehatan
        tingkat kedua; dan c. pelayanan kesehatan tingkat ketiga. c d e 1 sk no
        132676a (3) fasilitas. . . 2 presiden republik indonesla -457- (3)
        fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        dilaksanakan oleh pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta.
        (41 setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib memenuhi perizinan
        berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan
        kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat. ketentuan pasal 35 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 35 ketentuan lebih lanjut mengenai
        fasilitas pelayanan kesehatan dan peizinan berusaha diatur dalam
        peraturan pemerintah. ketentuan pasal 6o diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 60 (1) setiap orang yang melakukan pelayanan
        kesehatan tradisional yang menggunakan alat dan teknologi wajib memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norrna, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 ketentuan lebih lanjut
        mengenai peizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
        dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 1o6 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: 3 4 pasal 1o6 . . . sk no 132677a 5 presiden republik
        indonesia -458- pasal 106 (1) setiap orang yang memproduksi dan/ atau
        mengedarkan sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan harus memenuhi
        per2inan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 sediaan farmasi dan/ atau
        alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah memenuhi perizinan berusaha
        dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya
        berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh
        pemerintah pusat. (3) pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat berwenang mencabut perizinan
        berusaha dan memerintahkan penarikan dari peredaran sediaan farmasi
        dan/atau alat kesehatan yang telah memperoleh perizinan berusaha, yang
        terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/ atau
        kemanfaatan, serta sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan tersebut
        dapat disita dan dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan
        perundang- undangan. (4) ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan
        berusaha terkait sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1), ayat (21, dan ayat (3) diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 111 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 111 (1) makanan dan minuman yang dipergunakan untuk
        masyarakat harus didasarkan pada standar dan/ atau persyaratan
        kesehatan. sk no 132678 a (2) makanan . . . 6 presiden republik
        indonesia -459- (21 makanan dan minuman hanya dapat diedarkan setelah
        memenuhi perizinan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah
        sesuai dengan kewenangannya berdasarkan nonna, standar, prosedur, dan
        kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (3) makanan dan minuman
        yang tidak memenuhi ketentuan standar dan/atau persyaratan kesehatan
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau membahayakan kesehatan
        dilarang untuk diedarkan, serta harus ditarik dari peredaran, dilakukan
        pencabutan perizinan berusaha, dan diamankan/disita untuk dimusnahkan
        sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (41 ketentuan
        lebih lanjut mengenai perizinan bemsaha terkait makanan dan minuman
        sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 182 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 182 (1) pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya melakukan pengawasan terhadap masyarakat dan setiap
        penyelenggara kegiatan yang berhubungan dengan sumber daya di bidang
        kesehatan dan upaya kesehataa berdasarkan norma, standar, prosedur, dan
        kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (2) pemerintah pusat
        atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dalam melakukan
        pengawasan dapat memberikan perizinan berusaha terhadap setiap
        penyelenggaraan upaya kesehatan berdasarkan norma, standar, prosedur,
        dan kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (3) pemerintah pusat
        dalam melaksanakan pengawasan dapat mendelegasikan pengawasan kepada
        pemerintah daerah dan mengikutsertakan masyarakat. 7. ketentuan . . . sk
        no 132679 a 7 presiden republik indonesia _460_ ketentuan pasal 183
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 183 pemerintah pusat
        atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud
        dalam pasal 182 dalam melaksanakan tugasnya dapat mengangkat tenaga
        pengawas dengan tugas pokok untuk melakukan pengawasan terhadap segala
        sesuatu yang berhubungan dengan sumber daya di bidang kesehatan dan
        upaya kesehatan. ketentuan pasal 187 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 187 ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan dalam
        penyelenggaraan upaya di bidang kesehatan diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 188 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 188 pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan
        kewenangannya berdasarkan norna, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat dapat mengambil tindakan administratif
        terhadap tenaga kesehatan dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan yang
        melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. 1o.
        ketentuan pasal 197 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 197.
        . . 8 9 sk no 132680a presiden republik indonesia -461 - 1 pasal 197
        setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan
        farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki perizinan berusaha
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 1o6 ayat (1) dan/atau ayat (21,
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus
        juta rupiah). pasal 61 beberapa ketentuan dalam undang-undang nomor 44
        tahun 2009 tentang rumah sakit (lembaran negara republik indonesia tahun
        2009 nomor 153, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5o72)
        diubah sebagai berikut: ketentuan pasal 17 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 17 (1) rumah sakit yang tidak memenuhi
        persyaratan sebagai6411s dimaksud dalam pasal 7, pasal 8, pasal 9, pasal
        10, pasal 11, pasal 12, pasal 13, pasal 14, pasal 15, atau pasal 16
        dikenai sanksi administratif berupa: a. peringatantertulis; b.
        penghentian sementarakegiatan; c. dendaadministratif; d. pembekuan
        peizinan berusaha; dan/atau e. pencabutan penzinan berusaha. (21
        ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis, besaran denda, dan tata
        cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 24 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: 2 sk no 132681a pasaj24... 3 presiden republik
        indonesia -462- pasal 24 (1) pemerintah pusat menetapkan klasilikasi
        rumah sakit berdasarkan kemampuan pelayanan, fasilitas kesehatan, sarana
        penunjang, dan sumber daya manusia. (21 ketentuan lebih lanjut mengenai
        klasifikasi rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam
        peraturan pemerintah. ketentuan pasal 25 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 25 (1) setiap penyelenggara rumah sakit wajib
        memenuhi perizinan berusaha. (21 setiap penyelenggara rumah sakit yang
        tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai
        sanksi administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai tala cara
        pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
        dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 26 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 26 (1) peizitan berusaha terkait rumah sakit
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 diberikan oleh pemerintah pusat dan
        pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan klasifikasi
        rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam pasal 24. (21 pelaksanaan
        perizinan berusaha terkait rumah sakit oleh pemerintah daerah
        dilaksanakan sesuai dengan norrna, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat. 4 sk no 132682a 5. ketentuan . . . 5
        presiden republik indonesia -463- ketentuan pasal 27 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 27 perizinan berusaha terkait rumah
        sakit sebagaimana dimaksud dalam pasa1 25 dapat dicabut jika: a. habis
        masa berlakunya; b. tidak lagi memenuhi persyaratan dan standar; c.
        terbukti melakukan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan
        perundang-undangan; dan/ atau d. atas perintah pengadilan dalam rangka
        penegakan hukum. ketentuan pasal 28 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 28 ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan berusaha
        terkait rumah sakit diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal
        29 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 29 (1) setiap rumah
        sakit mempunyai kewajiban: a. memberikan informasi yang benar tentang
        pelayanan rumah sakit kepada masyarakat; b. memberikan pelayanan
        kesehatan y€rng aman, bermutu, anti diskriminasi, dan efektif dengan
        mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah
        sakit; c. memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan
        kemampuan pelayanannya; 6 7 sk no 132683 a d. berperan . . . presiden
        repuelik indonesia -464- d. berperan aktif dalam memberikan pelayanan
        kesehatan pada bencana sesuai dengan kemampuan pelayanannya; e.
        menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau
        miskin; f.  melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan
        fasilitas pelayanan bagi pasien tidak mampu atau miskin, pelayanan gawat
        darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan bagi korban bencana
        dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan; g.
        membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di
        rumah sakit sebagai acuan dalam melayani pasien; h. menyelenggarakan
        rekam medis; i.  menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara
        lain sarana ibadah, tempat parkir, ruang tunggu, sarana untuk penyandang
        disabilitas, wanita menyusui, anak-anak, dan lanjut usia; j. 
        melaksanakan sistem rujukan; k. menolak keinginan pasien yang
        bertentangan dengan standar profesi dan etika serta ketentuan peraturan
        perundang-undangan; 1. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur
        mengenai hak dan kewajiban pasien; m. menghormati dan melindungi hak
        pasien; n. melaksanakan etika rumah sakit; o. memiliki sistem pencegahan
        kecelakaan dan penanggulangan bencana; p. melaksanakan program
        pemerintah di bidang kesehatan, baik secara regional maupun nasional; q.
        membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau
        kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya; r.  menjrusun dan
        melaksanakan peraturan internal rumah sakit; s. melindungi . . . sk no
        132684a presiden repuelik indones]a -465- 8 s. melindungi dan memberikan
        bantuan hukum bagi semua petugas rumah sakit dalam melaksanakan tugas;
        dan t.  memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan
        tanpa rokok. (21 pelanggaran atas kewajiban s6lagai1n4n4 dimaksud pada
        ayal (1) dikenai sanksi administratif berupa: a. teguran; b. teguran
        tertulis; c. denda; dan/atau d. pencabutan per:ainan berusaha. (3)
        ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban rumah sakit sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) dan pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan
        pasal 40 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 40 (1) dalam
        upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit, wajib dilakukan akreditasi
        secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali. (21 akreditasi rumah sakit
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu lembaga
        independen, baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar
        akreditasi yang berlaku. (3) lembaga independen sebagaimana dimaksud
        pada ayat (21 ditetapkan oleh pemerintah pusat. (41 ketentuan lebih
        lanjut mengenai akreditasi rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat
        (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. 9. ketentuan . . .
        sk no 132685 a 9 presiden repuelik indonesia -466- ketentuan pasal 54
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 54 (1) pemerintah pusat
        dan pemerintah daerah dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat melakukan pembinaan dan pengawasan
        terhadap rumah sakit dengan melibatkan organisasi profesi, asosiasi
        perumahsakitan, dan  organisasi kemasyarakatan lainnya sesuai dengan
        tugas dan fungsi masing-masing. (21 pembinaan dan pengawasan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk: a. pemenuhan kebutuhan pelayanan
        kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat; b. peningkatan mutu pelayanan
        kesehatan; c. keselamatan pasien; d. pengembangan jangkauan pelayanan;
        dan e. peningkatan kemampuan kemandirian rumah sakit. (3) dalam
        melaksanakan tugas pengawasan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah
        sesuai dengan kewenangannya mengangkat tenaga pengawas sesuai kompetensi
        dan keahliannya. (41 tenaga pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
        melaksanakan pengawasan yang bersifat teknis medis dan teknis
        perumahsakitan. (5) dalam rangka pembinaan dan pengawasan, pemerintah
        pusat dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
        (21 dapat mengenakan sanksi administratif berupa: a. teguran; b. teguran
        tertulis; c. denda; dan/atau d. pencabutan perizinan berusaha. sk no
        132686a"]
  - source_sentence: >-
      Belum lama, salah satu terdakwa kasus korupsi inisial SYL telah diputus
      oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor dengan hukuman 10 tahun penjara.
      Sebagai masyarakat awam, saya skeptis hukuman 10 tahun itu akan akan genap
      dijalani 10 tahun karena pasti dipotong berbagai jenis remisi. Pertanyaan
      saya, apakah remisi bisa dicabut khusus untuk kasus korupsi?
    sentences:
      - >-
        ['(1) selain hak sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 , narapidana yang
        telah memenuhi persyaratan tertentu tanpa terkecuali juga berhak atas:
        a. remisi; b. asimilasi; c. cuti mengunjungi atau dikunjungi keluarga;
        d. cuti bersyarat; e. cuti menjelang bebas; f. pembebasan bersyarat; dan
        g. hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.', '(2)
        persyaratan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a.
        berkelakuan baik; b. aktif mengikuti program pembinaan; dan c. telah
        menunjukkan penurllnan tingkat risiko.', '(3) selain memenuhi
        persyaratan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), bagi narapidana
        yang akan diberikan cuti menjelang bebas atau pembebasan bersyarat
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dan huruf f juga harus telah
        menjalani masa pidana paling singkat 213 (dua pertiga) dengan ketentuan
        213 (dua pertiga) masa pidana tersebut paling sedikit 9 (sembilan)
        bulan. sk no 143391 a']
      - >-
        ['(1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara untuk kegiatan
        angkutan udara wajib memiliki sertifikat. (21 sertifrkat sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. sertilikat operator pesawat
        udara (air operator ertificatel yang diberikan kepada badan hukum
        indonesia yang mengoperasikan pesawat udara sipil untuk angkutan udara
        niaga; atau b. sertiflkat pengoperasian pesawat udara (operating
        ertificatel yang diberikan kepada orang atau badan hukum indonesia yang
        pesawat udara sipil untuk angkutan udara bukan niaga. 19. pasal 42
        dihapus. 21. ketentuan. . . sk no 132655 a 20. pasal 43 dihapus.
        presiden repuelik indonesia -430- 21. ketentuan pasal 45 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 45 ketentuan lebih lanjut mengenai tata
        cara dan prosedur memperoleh sertifrkat operator pesawat udara atau
        sertilikat pengoperasian pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran
        denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam
        peraturan pemerintah. 22. ketentuan pasal 46 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 46 (1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat
        udara wajib merawat pesawat udara, mesin pesawat udara, baling-baling
        pesawat terbang, dan komponennya untuk mempertahankan keandalan dan
        kelaikudaraan secara berkelanjutan. l2l dalam perawatan pesawat udara,
        mesin pesawat udara, baling-baling pesawat terbang, dan komponennya
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap orang harus membuat program
        perawatan pesawat udara yang disahkan oleh pemerintah pusat. 23.
        ketentuan pasal 47 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 47
        perawatan pesawat udara, mesin pesawat udara, baling-baling pesawat
        terbang, dan komponennya sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 hanya dapat
        dilakukan oleh: a. perusahaan angkutan udara yang telah memiliki
        sertifikat operator pesawat udara; sk no 132656a b. badan . . . presiden
        republik tndonesia -43l- b. badan hukum organisasi perawatan pesawat
        udara yang telah memiliki sertifikat organisasi perawatan pesawat udara
        (approued maintenane organizationl; alau c. personel ahli perawatan
        pesawat udara yang telah memiliki lisensi ahli perawatan pesawat udara
        (aircrafi maintenance engineer licensel. 24. pasal48 dihapus. 25.
        ketentuan pasal 49 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 49
        sertifikat organisasi perawatan pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 47 huruf b dapat diberikan kepada organisasi perawatan pesawat
        udara (approued maintenance organizationl di luar negeri yang memenuhi
        persyaratan setelah memiliki sertifikat organisasi perawatan pesawat
        udara yang diterbitkan oleh otoritas penerbangan negara yang
        bersangkutan. 26. ketentuan pasal 5o diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 50 setiap orang yang melanggar ketentuan perawatan
        pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam pasal 47 dikenai sanksi
        administratif. 27. ketentuan pasal 51 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: sk no 132657a pasal 51 ... preslden repuelik indonesia -432-
        pasal 51 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara, prosedur, dan
        pemberian sertifikat organisasi perawatan pesawat udara dan lisensi ahli
        perawatan pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran denda, dan tata
        cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah.
        28. ketentuan pasal 58 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        58 (1) setiap personel pesawat udara wajib memiliki lisensi atau
        sertifikat kompetensi. (21 personel pesawat udara yang terkait langsung
        dengan pelaksanaan pengoperasian pesawat udara wajib memiliki lisensi
        yang sah dan masih berlaku. 29. ketentuan pasal 60 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 60 lisensi personel pesawat udara yang
        diberikan oleh negara lain dapat diakui melalui pengesahan oleh
        pemerintah pusat. 30. ketentuan pasal 61 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 61 ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan,
        tata cara dan prosedur memperoleh lisensi, atau sertiflkat kompetensi
        dan lembaga pendidikan dan/ atau sertifikat pelatihan diatur dalam
        peraturan pemerintah. 3l.ketentuan... sk no 132658 a presiden blik
        indonesia -433- 31. ketentuan pasal 63 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 63 (1) pesawat udara yang dapat dioperasikan di wilayah
        negara kesatuan republik indonesia hanya pesawat udara indonesia. (21
        dalam keadaan tertentu dan dalam waktu terbatas pesawat udara sipil
        asing dapat dioperasikan setelah mendapat persetqiuan dari pemerintah
        pusat. (3) pesawat udara sipil asing dapat dioperasikan oleh perusahaan
        angkutan udara nasional untuk penerbangan ke dan dari luar negeri
        setelah adanya perjanj ian antarnegara. (4) pesawat udara sipil asing
        yang akan dioperasikan sebagaimana dimaksud pada ayat', '(2) dan ayat',
        "(3) harus memenuhi persyaratan kelaikudaraan yang ditetapkan oleh
        pemerintah pusat. (5) setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1), ayat (2]', ayat (3), dan ayat", '(4) dikenai
        sanksi administratif. (6) ketentuan lebih lanjut mengenai pengoperasian
        pesawat udara sipil serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara
        pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat', "(5)
        diatur dalam peraturan pemerintah. 32. pasal 64 dihapus. 33. ketentuan
        pasal 66 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 66. . . sk no
        132659a presiden republik indonesia -434- pasal 66 ketentuan lebih
        lanjut mengenai proses dan biaya sertifikasi diatur dalam peraturan
        pemerintah. 34. ketentuan pasal 67 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 67 (1) setiap pesawat udara negara yang dibuat dan
        dioperasikan harus memenuhi standar rancang bangun, produksi, dan
        kelaikudaraan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 pesawat udara
        negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki tanda
        identitas. 35. ketentuan pasal 84 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 84 angkutan udara niaga dalam negeri hanya dapat
        dilakukan oleh badan usaha angkutan udara nasional yang telah memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat. 36. ketentuan pasal 85 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 85 (1) angkutan udara niaga
        berjadwal dalam negeri hanya dapat dilakukan oleh badan usaha angkutan
        udara nasional yang telah memenuhi perizinan berusaha terkait angkutan
        udara niaga berjadwal. (2) badan . . . sk no 132660 a presiden repuelik
        indonesia -435- (21 badan usaha angkutan udara niaga berjadwal
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam keadaan tertentu dan bersifat
        sementara dapat melakukan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. (3) kegiatan
        angkutan udara niaga tidak berjadwal yang bersifat sementara sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan atas inisiatif instansi
        pemerintah dan/atau atas permintaan badan usaha angkutan udara niaga
        nasional. (41 kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal yang
        dilaksanakan oleh badan usaha angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) tidak menyebabkan terganggunya pelayanan pada
        rute yang menjadi tanggung jawabnya dan pada rute yang masih dilayani
        oleh badan usaha angkutan udara niaga berjadwal lainnya. 37. ketentuan
        pasal 91 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 91 (1) angkutan
        udara niaga tidak berjadwal dalam negeri hanya dapat dilakukan oleh
        badan usaha angkutan udara nasional yang telah memenuhi peizinar,
        berusaha dari pemerintah pusat. (21 angkutan udara niaga tidak berjadwal
        dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan
        persetujuan terbang fflight approuatl. (3) badan usaha angkutan udara
        niaga tidak berjadwal dalam negeri dalam keadaan tertentu dan bersifat
        sementara dapat melakukan kegiatan angkutan udara niaga berjadwal
        setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. sk no 132661a (4)
        kegiatan. . . presiden repijblik indonesia -436- (41 kegiatan angkutan
        udara niaga berjadwal yang bersifat sementara sebagaimana dimaksud pada
        ayat (3) dapat dilakukan atas inisiatif instansi pemerintah, pemerintah
        daerah, dan/ atau badan usaha angkutan udara niaga nasional. (5)
        kegiatan angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud pada ayat
        (3) tidak menyebabkan terganggunya pelayanan angkutan udara pada rute
        yang masih dilayani oleh badan usaha angkutan udara niaga befadwal
        lainnya. 38. ketentuan pasal 93 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 93 (1) kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar
        negeri yang dilakukan oleh badan usaha angkutan udara niaga nasional
        wajib mendapatkan persetujuan terbang dari pemerintah pusat. (21
        kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri yang dilakukan
        oleh perusahaan angkutan udara niaga asing wajib mendapatkan persetujuan
        terbang dari pemerintah pusat. 39. ketentuan pasal 94 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 94 (1) kegiatan angkutan udara niaga
        tidak berjadwal oleh perusahaan angkutan udara asing yang melayani rute
        ke indonesia dilarang mengangkut penumpang dari wilayah indonesia,
        kecuali penumpang sendiri yang diturunkan pada penerbangan sebelumnya.
        (21 kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal oleh perusahaan
        angkutan udara asing yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada
        ayat (1) dikenai sanksi administratif. sk no 132662a (3) ketentuan. . .
        presiden republik indonesia -437- (3) ketentuan lebih lanjut mengenai
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan
        pemerintah. 40. ketentuan pasal 95 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 95 (1) perusahaan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        asing khusus pengangkut kargo yang melayani rute ke indonesia dilarang
        mengangkut kargo dari wilayah indonesia, kecua-li dengan persetujuan
        pemerintah pusat. (21 perusahaan angkutan udara niaga tidak berjadwal
        asing khusus pengangkut kargo yang melanggar ketentuan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif. (3) ketentuan lebih
        lanjut mengenai kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan
        sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam
        peraturan pemerintah. 41. ketentuan pasal 96 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 96 ketentuan lebih lanjut mengenai angkutan udara
        niaga, kerja sama angkutan udara, dan sanksi administratif termasuk
        prosedur dan tata cara pengenaan, diatur dalam peraturan pemerintah. 42.
        ketentuan pasal 97 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 97...
        sk no 132663 a presiden republik indonesia -438- pasal 97 (1) pelayanan
        yang diberikan badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dalam
        menjalankan kegiatannya dapat dikelompokkan paling sedikit dalam: a.
        pelayanan dengan standar maksimum; b. pelayanan dengan standar menengah;
        atau c. pelayanan dengan standar minimum. (21 badan usaha angkutan udara
        niaga berjadwal dalam menyediakan pelayanan sebagaimana dimaksud pada
        ayat (1) harus memberitahukan kepada pengguna jasa tentang kondisi dan
        spesifikasi pelayanan yang disediakan. 43. pasal 99 dihapus. 44.
        ketentuan pasal 100 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 10o
        ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan badan usaha angkutan udara
        niaga berjadwal diatur dalam peraturan pemerintah. 45. ketentuan pasal
        1o9 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 109 kegiatan
        angkutan udara niaga sebagaimana dimaksud dalam pasal 1o8 dilakukan oleh
        badan usaha di bidang angkutan udara niaga nasional setelah memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat. 46. pasal 110 dihapus. 47.
        pasal 111 . . . sk no 132664a prestden republik tndonesia -439- 47.
        pasal 111dihapus. 48. ketentuan pasal 112 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 112 perizinan berusaha sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 109 berlaku selama pemegan gperizinan berusaha masih menjalankan
        kegiatan angkutan udara secara nyata dengan terus menerus mengoperasikan
        pesawat udara sesuai dengan perizinan berusaha yang diberikan. 49.
        ketentuan pasal 113 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 113
        (1) perizinan berusaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 109 dilarang
        dipindahtangankan kepada pihak lain sebelum melakukan kegiatan usaha
        angkutan udara secara nyata dengan mengoperasikan pesawat udara sesuai
        dengan perizinan berusaha yang diberikan. l2l pemegang perizinan
        berusaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        dikenai sanksi administratif berupa pencabutan perizinan berusaha. 50.
        ketentuan pasal 114 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 114
        ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, tata cara, dan prosedur
        memperoleh perizinar: berusaha terkait angkutan udara niaga diatur dalam
        peraturan pemerintah. 51. ketentuan pasal 118 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 118.. . sk no 132665 a presiden republik
        indonesia -440- pasal 118 (1) pemegang perizinan berusaha angkutan udara
        niaga wajib: a. melakukan kegiatan angkutan udara secara nyata paling
        lambat 12 (dua belas) bulan sejak perizinan berusaha diterbitkan dengan
        mengoperasikan minimal jumlah pesawat udara yang dimiliki dan dikuasai
        sesuai dengan lingkup usaha atau kegiatannya; b. memiliki dan menguasai
        pesawat udara dengan jumlah tertentu; c. mematuhi ketentuan wajib
        angkut, penerbangan sipil, dan ketentuan lain sesuai dengan peraturan
        perundang-undangan; d. menutup asuransi tanggung jawab pengangkut dengan
        nilai pertanggungan sebesar santunan penumpang angkutan udara niaga yang
        dibuktikan dengan perjanjian penutupan asuransi; e. melayani calon
        penumpang secara adil tanpa diskriminasi atas dasar suku, agama, ras,
        antargolongan, serta strata ekonomi dan sosial; f.  menyerahkan laporan
        kegiatan angkutan udara, termasuk keterlambatan dan pembatalan
        penerbangan setiap jangka waktu tertentu kepada pemerintah pusat; c.
        menyerahkan laporan kinerja keuangan yang telah diaudit oleh kantor
        akuntan publik terdaftar yang sekurang-kurangnya memuat neraca, laporan
        rugi laba, arus kas, dan perincian biaya, setiap tahun paling lambat
        akhir bulan april tahun berikutnya kepada pemerintah pusat; h.
        melaporkan apabila terjadi perubahan penanggung jawab atau pemilik badan
        usaha angkutan udara niaga, domisili badan usaha angkutan udara niaga,
        dan pemilikan pesawat udara kepada pemerintah pusat; dan i. memenuhi . .
        . sk no 132666a pres]den repualik indones -441 - i.  memenuhi standar
        pelayanan yang ditetapkan. (21 pemegang izin kegiatan angkutan udara
        bukan niaga yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah,
        badan usaha, dan lembaga tertentu wajib: a. mengoperasikan pesawat udara
        paling lambat 12 (dua belas) bulan setelah izin kegiatan diterbitkan; b.
        mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang penerbangan sipil dan
        peraturan perundang-undangan lain yang berlaku; c. menyerahkan laporan
        kegiatan angkutan udara setiap bulan paling lambat tanggal 10 (sepuluh)
        bulan berikutnya kepada pemerintah pusat; dan d. melaporkan apabila
        terjadi perubahan penanggung jawab, kepemilikan pesawat udara, dan/ atau
        domisili kantor pusat kegiatan kepada pemerintah pusat. (3) pemegang
        izin kegiatan angkutan udara bukan niaga yang dilakukan oleh orang
        perseorangan wajib: a. mengoperasikan pesawat udara paling lambat 12
        (dua belas) bulan setelah izin diterbitkan; b. mematuhi peraturan
        perundang-undangan di bidang penerbangan sipil dan peraturan
        pemndang-undangan lain; c. menyerahkan laporan kegiatan angkutan udara
        setiap bulan paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya kepada
        pemerintah pusat; dan d. melaporkan apabila terjadi perubahan penanggung
        jawab, kepemilikan pesawat udara, dan/ atau domisili pemegang izir,
        kepada pemerintah pusat. 52. ketentuan pasal 119 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 119... sk no 132667 a presiden republtk
        indonesia -442- pasal 119 (1) dalam hal pemegang perlinan berusaha
        angkutan udara niaga dan pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan
        niaga tidak melakukan kegiatan angkutan udara secara nyata dengan
        pesawat udara selama 12 (dua belas) bulan berturut-turut sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 118 ayat (1) hurufa, ayat(21 huruf a dan ayat (3)
        huruf a, peizinan berusaha angkutan udara niaga atau izin kegiatan
        angkutan udara bukan niaga yang diterbitkan tidak berlaku dengan
        sendirinya. (21 pemegang perizinan berusaha angkutan udara niaga dan
        pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan niaga yang melanggar
        ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 118 dikenai sanksi
        administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (21 diatur dalam peraturan pemerintah. 53. ketentuan
        pasal 120 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 12o ketentuan
        lebih lanjut mengenai kewajiban pemegang perlinan berusaha, persyaratan,
        dan sanksi administratif termasuk prosedur dan tata cara pengenaan
        sanksi diatur dalam peraturan pemerintah. 54. ketentuan pasal 130 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 13o . . . sk no 132668 a
        presiden repuelik indonesia -443- pasal 130 ketentuan lebih lanjut
        mengenai tarif angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi
        dan angkutan udara perintis serta sanksi administratif, termasuk
        prosedur dan tata cara pengenaan sanksi diatur dalam peraturan
        pemerintah. 55. pasal 131 dihapus. 56. pasal 132 dihapus. 57. pasal 133
        dihapus. 58. ketentuan pasal 137 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 137 ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 136 ayat (5) diatur dalam peraturan pemerintah. 59.
        ketentuan pasal 138 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 138
        (1) pemilik, agen ekspedisi muatan pesawat udara, atau pengirim yang
        menyerahkan barang khusus dan/atau berbahaya wajib menyampaikan
        pemberitahuan kepada pengelola pergudangan dan/ atau badan usaha
        angkutan udara sebelum dimuat ke dalam pesawat udara. sk no 132669a (2)
        badan . . . presiden republik indonesia -444- (21 badan usaha bandar
        udara, unit penyelenggara bandar udara, badan usaha pergudangan, atau
        badan usaha angkutan udara niaga yang melakukan kegiatan pengangkutan
        barang khusus dan/atau barang berbahaya wajib menyediakan tempat
        penyimpanan atau penumpukan serta bertanggung jawab terhadap penyusunan
        sistem dan prosedur penanganan barang khusus dan/ atau berbahaya selama
        barang tersebut belum dimuat ke dalam pesawat udara. (3) pemilik, agen
        ekspedisi muatan pesawat udara, pengirim, badan usaha bandar udara, unit
        penyelenggara bandar udara, badan usaha pergudangan, atau badan usaha
        angkutan udara niaga yang melanggar ketentuan pengangkutan barang
        berbahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikenai sanksi
        administratif. (41 ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (3) diatur dalam peraturan pemerintah. 60. ketentuan
        pasal 139 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 139 ketentuan
        lebih lanjut mengenai pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya
        serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 61. ketentuan pasal 205
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: sk no 099970 a pasal 2o5. . .
        presiden republik indonesia -445- pasal 2o5 (1) daerah lingkungan
        kepentingan bandar udara sebagaimana dimaksud dalam pasal 202 huruf g
        merupakan daerah di luar lingkungan kerja bandar udara yang digunakan
        untuk menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan serta kelancaran
        aksesibilitas penumpang dan kargo. (21 pemanfaatan daerah lingkungan
        kepentingan bandar udara harus mendapatkan persetqjuan dari pemerintah
        pusat. 62. pasal215 dihapus 63. ketentuan pasal 218 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 218 ketentuan lebih lanjut mengenai
        keselamatan dan keamanan penerbangan, pelayanan jasa bandar udara, serta
        tata cara dan prosedur untuk memperoleh sertifikat bandar udara atau
        register bandar udara dan kriteria, jenis, besaran denda, serta tata
        cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah.
        64. ketentuan pasal 219 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        219 (1) setiap badan usaha bandar udara atau unit penyelenggara bandar
        udara wajib menyediakan fasilitas bandar udara yang memenuhi persyaratan
        keselamatan dan  keamanan penerbangan serta pelayanan jasa bandar udara
        sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. sk no 137364a (2)
        setiap. . . presiden republik indonesia -446- (21 setiap badan usaha
        bandar udara atau unit penyelenggara bandar udara yang melanggar
        ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi
        administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis,
        besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. 65. ketentuan
        pasal 221 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 221 ketentuan
        lebih lanjut mengenai pengoperasian fasilitas bandar udara serta
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 66. ketentuan pasal 222
        ditubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal222 (1) setiap personel
        bandar udara wajib memiliki lisensi atau sertifrkat kompetensi. (21
        sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh
        melalui pendidikan dan/ atau pelatihan yang diselenggarakan lembaga yang
        telah diakreditasi oleh pemerintah pusat. 67. ketentuan pasal 224 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 224 lisensi personel bandar
        udara yang diberikan oleh negara lain dinyatakan sah melalui pengesahan
        atau validasi oleh pemerintah pusat. sk no 099123 a 68. ketentuan . . .
        presiden republik indonesia -447- 68. ketentuan pasal 225 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasaj225 ketentuan lebih lanjut
        mengenai persyaratan, tata cara dan prosedur memperoleh lisensi, lembaga
        pendidikan dan/atau pelatihan, serta kriteria, jenis, besaran denda, dan
        tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan
        pemerintah. 69. ketentuan pasal 233 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 233 (1) pelayanan jasa kebandarudaraan sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 232 ayat (2) dapat diselenggarakan oleh: a. badan
        usaha bandar udara untuk bandar udara yang diirsahakan secara komersial
        setelah memenuhi penzrnan berusaha dari pemerintah pusat; atau b. unit
        penyelenggara bandar udara untuk bandar udara yang belum diusahakan
        secara komersial yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada
        pemerintah pusat danlatau pemerintah daerah sesuai kewenangan. (21
        perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak
        dapat dipindahtangankan. (3) pelayanan jasa terkait bandar udara
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 232 ayat (3) dapat diselenggarakan oleh
        orang perseorangan warga negara indonesia dan/ atau badan hukum
        indonesia. (41 badan usaha bandar udara  yang memindahtangankan
        perizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi
        administratif berupa pencabutan peizinan berusaha. sk no099124a
        70.ketentuan... presiden reptjelik indonesia -444- 70. ketentuan pasal
        237 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 237 pemerintah pusat
        mengembangkan usaha kebandarudaraan melalui penanaman modal sesuai
        dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal.
        71. ketentuan pasal 238 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal
        238 ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan pengusahaan di bandar
        udara, serta kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan
        sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 72. ketent.tan
        pasal 242 diuban' sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 242 ketentuan
        lebih lanjut mengenai tanggung jawab atas kerugian serta kriteria,
        jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif
        diatur dalam peraturan pemerintah. 73. ketentuan pasal247 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasa7247 ... sk no 099125 a presiden
        reptjelik indonesia -449- pasal247 (1) dalam rangka menunjang kegiatan
        tertentu, instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan/ atau badan
        hukum indonesia dapat membangun bandar udara khusus setelah mendapat
        persetujuan dari pemerintah pusat. (21 ketentuan keselamatan dan 
        keamanan penerbangan pada bandar udara khusus berlaku sebagaimana
        ketentuan pada bandar udara. 74. ketentuan pasai249 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 249 bandar udara khusus dilarang
        melayani penerbangan langsung dari dan/atau ke luar negeri kecuali dalam
        keadaan tertentu dan bersifat sementara setelah memperoleh persetujuan
        dari pemerintah pusat. 75. ketentuan pasal 250 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 250 bandar udara khusus dilarang digunakan untuk
        kepentingan umum, kecuali dalam keadaan tertentu dengan persetujuan dari
        pemerintah pusat. 76. ketentuan pasal 252 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 252 ketentuan lebih lanjut mengenai persetujuan
        pembangunan dan pengoperasian bandar udara khusus serta perubahan status
        menjadi bandar udara yang dapat melayani kepentingan umum diatur dalam
        peraturan pemerintah. sk no 099126 a 77. ketentuan . . . presiden
        repuelik indones -450- 77. ketentuan pasal 253 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 253 tempat pendaratan dan lepas landas helikopter
        terdiri atas: a. tempat pendaratan dan lepas landas helikopter di
        daratan (surfae leuel heliportl; b. tempat pendaratan dan lepas landas
        helikopter di atas gedung (eleuated leliportl; dan c. tempat pendaratan
        dan lepas landas helikopter di perairan (helideclq. 78. ketentuan pasal
        254 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 254 (1) setiap
        tempat pendaratan dan lepas landas helikopter yang dioperasikan wajib
        memenuhi ketentuan keselamatan penerbangan dan keamanan penerbangan. (21
        tempat pendaratan dan lepas landas helikopter yang telah memenuhi
        ketentuan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        diberikan tanda pendaftaran (registefi oleh pemerintah pusat. 79.
        ketentuan pasal 255 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 255
        ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur pemberian
        persetujuan pembangunan dan pengoperasian tempat pendaratan dan lepas
        landas helikopter diatur dalam peraturan pemerintah. sk no 132670a 8o.
        ketentuan . . . presiden republik indonesia -451 - 80. ketentuan pasal
        275 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 275 (1) lembaga
        penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 271 ayat (2) wajib memiliki sertifikat pelayanan navigasi
        penerbangan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 sertifikat
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada setiap unit 
        pelayanan penyelenggara navigasi penerbangan. (3) unit  pelayanan
        penyelenggara navigasi penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (21
        terdiri atas: a. unit pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara; b.
        unit pelayanan navigasi pendekatan; dan c. unit pelayanan navigasi
        penerbangan jelajah. 81. ketentuan pasal 277 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 277 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan
        prosedur pembentukan dan sertifikasi lembaga penyelenggara pelayanan
        navigasi penerbangan serta biaya pelayanan jasa navigasi penerbangan
        diatur dalam peraturan pemerintah. 82. ketentuan pasal 292 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 292 (1) setiap personel
        navigasi penerbangan wajib memiliki lisensi atau sertifrkat kompetensi.
        sk no 132671a (2) personel ... preslden repualik indonesia -452- (21
        personel navigasi penerbangan yang terkait langsung dengan pelaksanaan
        pengoperasian dan/atau pemeliharaan fasilitas navigasi penerbangan wajib
        memiliki lisensi yang sah dan masih berlaku. 83. ketentuan pasal 294
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal294 lisensi personel
        navigasi penerbangan yang diberikan oleh negara lain dinyatakan sah
        melalui pengesahan atau validasi oleh pemerintah pusat. 84. ketentuan
        pasal 295 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 295 ketentuan
        lebih lanjut mengenai persyaratan, tata cara dan prosedur memperoleh
        lisensi, kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 85. ketentuan pasal 317
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 317 ketentuan lebih
        lanjut mengenai sistem manajemen keselamatan penyedia jasa penerbangan,
        kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi
        administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 86. ketentuan pasal 389
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: sk no 132672a pasal 389...
        presioen republik indonesia -453- pasal 389 setiap personel di bidang
        penerbangan yang telah memiliki sertifikat kompetensi sebagaimana
        dimaksud dalam pasal 388 dapat diberi lisensi oleh pemerintah pusat
        setelah memenuhi persyaratan. 87. ketentuan pasal 392 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 392 ketentuan lebih lanjut mengenai
        sertifikat kompetensi dan lisensi serta penjrusunan program pelatihan
        diatur dalam peraturan pemerintah. 88. ketentuan pasal 409 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 4o9 setiap orang selain yang
        ditentukan dalam pasal 47 yang melakukan perawatan pesawat udara, mesin
        pesawat udara, baling-baling pesawat terbang dan komponennya dipidana
        dengan pidana penjara paling lama i (satu) tahun atau pidana denda
        paling banyak rp200.000.000,o0 (dua ratus juta rupiah). 89. ketentuan
        pasal 414 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 414 setiap
        orang yang mengoperasikan pesawat udara sipil asing di wilayah negara
        kesatuan republik indonesia tanpa persetujuan dari pemerintah pusat
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 63 ayat (2) dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp2.0o0.000.o00,o0 (dua miliar rupiah). 9o. ketentuan pasal 416 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 416 setiap orang yang melakukan
        kegiatan angkutan udara niaga dalam negeri tanpa perizinan berusaha dari
        pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 84 dipidana dengan
        pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling
        banyak rp500.00o.0oo,0o (lima ratus juta rupiah). 9 1. ketentuan . . .
        sk no 096546 a presiden republik indonesia -454- 91. ketentuan pasal 418
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 418 setiap orang yang
        melakukan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri
        tanpa persetujuan terbang dari pemerintah pusat sebagaimana dimaksud
        dalam pasal 93 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
        (satu) tahun atau pidana denda paling banyak rp350.000.0o0,o0 (tiga
        ratus lima puluh juta rupiah). 92. ketentuan pasal 423 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 423 (1) personel bandar udara yang
        mengoperasikan dan/ atau memelihara fasilitas bandar udara tanpa
        memiliki lisensi atau sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud dalam
        pasal 222 yang mengakibatkan timbulnya korban dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak
        rp200.o00.000,0o (dua ratus juta rupiah). (21 dalam hal perbuatan
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). 93.
        ketentuan pasal 426 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 426
        setiap orang yang membangun bandar udara khusus tanpa persetqjuan dari
        pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 247 ayal (1) dipidana
        dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling
        banyak rp1.00o.0o0.o00,00 (satu miliar rupiah). sk no 132674a 94.
        ketentuan . . . presiden repuelik indonesia -455- 94. ketentuan pasal
        427 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 427 setiap orang
        yang mengoperasikan bandar udara khusus dengan melayani penerbangan
        langsung dari dan/atau ke luar negeri tanpa persetujuan dari pemerintah
        pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 249, dipidana dengan pidana
        penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp3.000.00o.000,00 (tiga miliar rupiah). 95. ketentuan pasal 428 diubah
        sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 428 (1) setiap orang yang
        mengoperasikan bandar udara khusus yang digunakan untuk kepentingan umum
        tanpa persetujuan dari pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal
        250 yang mengakibatkan timbulnya korban dipidana dengan pidana penjara
        paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak
        rp3.o00.000.000,00 (tiga miliar rupiah). (21 dalam hal tindak pidana
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp15.00o.000.000,00 (lima belas miliar
        rupiah). paragraf 1 1 kesehatan, obat, dan makanan pasal 59 untuk
        memberikan kemudahan bagi masyarakat terutama pelaku usaha dalam
        mendapatkan perizinan berusaha dari sektor kesehatan, obat, dan makanan,
        peraturan pemerintah pengganti undang-undang ini mengubah, menghapus,
        atau menetapkan pengaturan baru beberapa ketentuan yang diatur dalam: a.
        undang-undang nomor 36 tahun 2oo9 tentang kesehatan (iembaran negara
        republik indonesia tahun 2009 nomor 144, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5063); b. undang-undang . . . sk no 132675 a b
        presiden republik indonesia _456_ undang-undang nomor 44 tahun 2009
        tentang rumah sakit (kmbaran negara republik indonesia tahun 2009 nomor
        153, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5072);
        undang-undang nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika (lembaran negara
        republik indonesia tahun 1997 nomor 10, tambahan l,embaran negara
        republik indonesia nomor 3671); undang-undang nomor 35 tahun 2oo9
        tentang narkotika (kmbaran negara republik indonesia tahun 2009 nomor
        143, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5062); dan
        undang-undang nomor 18 tahun 2ol2 te.ntang pangan (kmbaran negara
        republik indonesia tahun 2012 nomor 227, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5360). pasal 60 beberapa ketentuan dalam
        undang-undang nomor 36 tahun 2o09 tentang kesehatan (lembaran negara
        republik indonesia tahun 2009 nomor 144, tambahan lembaran negara
        republik indonesia nomor 5063) diubah sebagai berikut: ketentuan pasal
        30 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 30 (1) fasilitas
        pelayanan kesehatan menurut jenis pelayanannya terdiri atas: a.
        pelayanan kesehatan perseorangan; dan b. pelayanankesehatan masyarakat.
        (21 fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        meliputi: a. pelayanan kesehatan tingkat pertama; b. pelayanan kesehatan
        tingkat kedua; dan c. pelayanan kesehatan tingkat ketiga. c d e 1 sk no
        132676a (3) fasilitas. . . 2 presiden republik indonesla -457- (3)
        fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        dilaksanakan oleh pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta.
        (41 setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib memenuhi perizinan
        berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan
        kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat. ketentuan pasal 35 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 35 ketentuan lebih lanjut mengenai
        fasilitas pelayanan kesehatan dan peizinan berusaha diatur dalam
        peraturan pemerintah. ketentuan pasal 6o diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 60 (1) setiap orang yang melakukan pelayanan
        kesehatan tradisional yang menggunakan alat dan teknologi wajib memenuhi
        perizinan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norrna, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 ketentuan lebih lanjut
        mengenai peizinan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
        dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 1o6 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: 3 4 pasal 1o6 . . . sk no 132677a 5 presiden republik
        indonesia -458- pasal 106 (1) setiap orang yang memproduksi dan/ atau
        mengedarkan sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan harus memenuhi
        per2inan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (21 sediaan farmasi dan/ atau
        alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah memenuhi perizinan berusaha
        dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya
        berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh
        pemerintah pusat. (3) pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria
        yang ditetapkan oleh pemerintah pusat berwenang mencabut perizinan
        berusaha dan memerintahkan penarikan dari peredaran sediaan farmasi
        dan/atau alat kesehatan yang telah memperoleh perizinan berusaha, yang
        terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/ atau
        kemanfaatan, serta sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan tersebut
        dapat disita dan dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan
        perundang- undangan. (4) ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan
        berusaha terkait sediaan farmasi dan/ atau alat kesehatan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1), ayat (21, dan ayat (3) diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 111 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 111 (1) makanan dan minuman yang dipergunakan untuk
        masyarakat harus didasarkan pada standar dan/ atau persyaratan
        kesehatan. sk no 132678 a (2) makanan . . . 6 presiden republik
        indonesia -459- (21 makanan dan minuman hanya dapat diedarkan setelah
        memenuhi perizinan berusaha dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah
        sesuai dengan kewenangannya berdasarkan nonna, standar, prosedur, dan
        kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (3) makanan dan minuman
        yang tidak memenuhi ketentuan standar dan/atau persyaratan kesehatan
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau membahayakan kesehatan
        dilarang untuk diedarkan, serta harus ditarik dari peredaran, dilakukan
        pencabutan perizinan berusaha, dan diamankan/disita untuk dimusnahkan
        sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (41 ketentuan
        lebih lanjut mengenai perizinan bemsaha terkait makanan dan minuman
        sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 182 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 182 (1) pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai
        dengan kewenangannya melakukan pengawasan terhadap masyarakat dan setiap
        penyelenggara kegiatan yang berhubungan dengan sumber daya di bidang
        kesehatan dan upaya kesehataa berdasarkan norma, standar, prosedur, dan
        kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (2) pemerintah pusat
        atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya dalam melakukan
        pengawasan dapat memberikan perizinan berusaha terhadap setiap
        penyelenggaraan upaya kesehatan berdasarkan norma, standar, prosedur,
        dan kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. (3) pemerintah pusat
        dalam melaksanakan pengawasan dapat mendelegasikan pengawasan kepada
        pemerintah daerah dan mengikutsertakan masyarakat. 7. ketentuan . . . sk
        no 132679 a 7 presiden republik indonesia _460_ ketentuan pasal 183
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 183 pemerintah pusat
        atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya sebagaimana dimaksud
        dalam pasal 182 dalam melaksanakan tugasnya dapat mengangkat tenaga
        pengawas dengan tugas pokok untuk melakukan pengawasan terhadap segala
        sesuatu yang berhubungan dengan sumber daya di bidang kesehatan dan
        upaya kesehatan. ketentuan pasal 187 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 187 ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan dalam
        penyelenggaraan upaya di bidang kesehatan diatur dalam peraturan
        pemerintah. ketentuan pasal 188 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 188 pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai dengan
        kewenangannya berdasarkan norna, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat dapat mengambil tindakan administratif
        terhadap tenaga kesehatan dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan yang
        melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. 1o.
        ketentuan pasal 197 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 197.
        . . 8 9 sk no 132680a presiden republik indonesia -461 - 1 pasal 197
        setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan
        farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki perizinan berusaha
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 1o6 ayat (1) dan/atau ayat (21,
        dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
        pidana denda paling banyak rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus
        juta rupiah). pasal 61 beberapa ketentuan dalam undang-undang nomor 44
        tahun 2009 tentang rumah sakit (lembaran negara republik indonesia tahun
        2009 nomor 153, tambahan lembaran negara republik indonesia nomor 5o72)
        diubah sebagai berikut: ketentuan pasal 17 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 17 (1) rumah sakit yang tidak memenuhi
        persyaratan sebagai6411s dimaksud dalam pasal 7, pasal 8, pasal 9, pasal
        10, pasal 11, pasal 12, pasal 13, pasal 14, pasal 15, atau pasal 16
        dikenai sanksi administratif berupa: a. peringatantertulis; b.
        penghentian sementarakegiatan; c. dendaadministratif; d. pembekuan
        peizinan berusaha; dan/atau e. pencabutan penzinan berusaha. (21
        ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis, besaran denda, dan tata
        cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
        diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 24 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: 2 sk no 132681a pasaj24... 3 presiden republik
        indonesia -462- pasal 24 (1) pemerintah pusat menetapkan klasilikasi
        rumah sakit berdasarkan kemampuan pelayanan, fasilitas kesehatan, sarana
        penunjang, dan sumber daya manusia. (21 ketentuan lebih lanjut mengenai
        klasifikasi rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam
        peraturan pemerintah. ketentuan pasal 25 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 25 (1) setiap penyelenggara rumah sakit wajib
        memenuhi perizinan berusaha. (21 setiap penyelenggara rumah sakit yang
        tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai
        sanksi administratif. (3) ketentuan lebih lanjut mengenai tala cara
        pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
        dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal 26 diubah sehingga berbunyi
        sebagai berikut: pasal 26 (1) peizitan berusaha terkait rumah sakit
        sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 diberikan oleh pemerintah pusat dan
        pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan klasifikasi
        rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam pasal 24. (21 pelaksanaan
        perizinan berusaha terkait rumah sakit oleh pemerintah daerah
        dilaksanakan sesuai dengan norrna, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat. 4 sk no 132682a 5. ketentuan . . . 5
        presiden republik indonesia -463- ketentuan pasal 27 diubah sehingga
        berbunyi sebagai berikut: pasal 27 perizinan berusaha terkait rumah
        sakit sebagaimana dimaksud dalam pasa1 25 dapat dicabut jika: a. habis
        masa berlakunya; b. tidak lagi memenuhi persyaratan dan standar; c.
        terbukti melakukan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan
        perundang-undangan; dan/ atau d. atas perintah pengadilan dalam rangka
        penegakan hukum. ketentuan pasal 28 diubah sehingga berbunyi sebagai
        berikut: pasal 28 ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan berusaha
        terkait rumah sakit diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan pasal
        29 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 29 (1) setiap rumah
        sakit mempunyai kewajiban: a. memberikan informasi yang benar tentang
        pelayanan rumah sakit kepada masyarakat; b. memberikan pelayanan
        kesehatan y€rng aman, bermutu, anti diskriminasi, dan efektif dengan
        mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah
        sakit; c. memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan
        kemampuan pelayanannya; 6 7 sk no 132683 a d. berperan . . . presiden
        repuelik indonesia -464- d. berperan aktif dalam memberikan pelayanan
        kesehatan pada bencana sesuai dengan kemampuan pelayanannya; e.
        menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau
        miskin; f.  melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan
        fasilitas pelayanan bagi pasien tidak mampu atau miskin, pelayanan gawat
        darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan bagi korban bencana
        dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan; g.
        membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di
        rumah sakit sebagai acuan dalam melayani pasien; h. menyelenggarakan
        rekam medis; i.  menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara
        lain sarana ibadah, tempat parkir, ruang tunggu, sarana untuk penyandang
        disabilitas, wanita menyusui, anak-anak, dan lanjut usia; j. 
        melaksanakan sistem rujukan; k. menolak keinginan pasien yang
        bertentangan dengan standar profesi dan etika serta ketentuan peraturan
        perundang-undangan; 1. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur
        mengenai hak dan kewajiban pasien; m. menghormati dan melindungi hak
        pasien; n. melaksanakan etika rumah sakit; o. memiliki sistem pencegahan
        kecelakaan dan penanggulangan bencana; p. melaksanakan program
        pemerintah di bidang kesehatan, baik secara regional maupun nasional; q.
        membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau
        kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya; r.  menjrusun dan
        melaksanakan peraturan internal rumah sakit; s. melindungi . . . sk no
        132684a presiden repuelik indones]a -465- 8 s. melindungi dan memberikan
        bantuan hukum bagi semua petugas rumah sakit dalam melaksanakan tugas;
        dan t.  memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan
        tanpa rokok. (21 pelanggaran atas kewajiban s6lagai1n4n4 dimaksud pada
        ayal (1) dikenai sanksi administratif berupa: a. teguran; b. teguran
        tertulis; c. denda; dan/atau d. pencabutan per:ainan berusaha. (3)
        ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban rumah sakit sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) dan pengenaan sanksi administratif sebagaimana
        dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. ketentuan
        pasal 40 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 40 (1) dalam
        upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit, wajib dilakukan akreditasi
        secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali. (21 akreditasi rumah sakit
        sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu lembaga
        independen, baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar
        akreditasi yang berlaku. (3) lembaga independen sebagaimana dimaksud
        pada ayat (21 ditetapkan oleh pemerintah pusat. (41 ketentuan lebih
        lanjut mengenai akreditasi rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat
        (1) dan ayat (2) diatur dalam peraturan pemerintah. 9. ketentuan . . .
        sk no 132685 a 9 presiden repuelik indonesia -466- ketentuan pasal 54
        diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 54 (1) pemerintah pusat
        dan pemerintah daerah dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang
        ditetapkan oleh pemerintah pusat melakukan pembinaan dan pengawasan
        terhadap rumah sakit dengan melibatkan organisasi profesi, asosiasi
        perumahsakitan, dan  organisasi kemasyarakatan lainnya sesuai dengan
        tugas dan fungsi masing-masing. (21 pembinaan dan pengawasan sebagaimana
        dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk: a. pemenuhan kebutuhan pelayanan
        kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat; b. peningkatan mutu pelayanan
        kesehatan; c. keselamatan pasien; d. pengembangan jangkauan pelayanan;
        dan e. peningkatan kemampuan kemandirian rumah sakit. (3) dalam
        melaksanakan tugas pengawasan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah
        sesuai dengan kewenangannya mengangkat tenaga pengawas sesuai kompetensi
        dan keahliannya. (41 tenaga pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
        melaksanakan pengawasan yang bersifat teknis medis dan teknis
        perumahsakitan. (5) dalam rangka pembinaan dan pengawasan, pemerintah
        pusat dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
        (21 dapat mengenakan sanksi administratif berupa: a. teguran; b. teguran
        tertulis; c. denda; dan/atau d. pencabutan perizinan berusaha. sk no
        132686a"]
      - >-
        Menurut Pasal 1365 KUH Perdata, Perbuatan Melawan Hukum timbul karena
        perbuatan seseorang yang mengakibatkan kerugian pada orang lain. Hak
        menuntut ganti kerugian karena PMH tidak perlu somasi. Kapan saja
        terjadi Perbuatan Melawan Hukum, pihak yang dirugikan langsung mendapat
        hak untuk menuntut ganti rugi tersebut. KUH Perdata tidak mengatur
        bagaimana bentuk dan rincian ganti rugi. Dengan demikian, bisa digugat
        ganti kerugian yang nyata-nyata diderita dan dapat diperhitungkan
        (material) dan kerugian yang tidak dapat dinilai dengan uang
        (immaterial).
  - source_sentence: >-
      Apakah seseorang yang melakukan wanprestasi suatu perjanjian dapat
      dikatakan melakukan suatu penipuan?
    sentences:
      - >-
        ['(1)  a.  saksi dipanggil ke dalam ruang sidang seorang demi seorang 
        menurut urutan yang dipandang sebaik-baiknya oleh hakim ketua  sidang
        setelah mendengar pendapat penuntut umum, terdakwa  atau penasihat
        hukum;  b.  yang pertama-tama didengar keterangannya adalah korban yang 
        menjadi saksi;  c.  dalam hal ada saksi baik yang menguntungkan maupun
        yang  memberatkan terdakwa yang tercantum dalam surat pelimpahan 
        perkara dan atau yang diminta oleh terdakwa atau penasihat  hukum atau
        penuntut umum selama berlangsungnya sidang atau  sebelum dijatuhkannya
        putusan, hakim ketua sidang wajib  mendengar keterangan saksi
        tersebut.', '(2)  hakim ketua sidang menanyakan kepada saksi keterangan
        tentang nama  lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis
        kelamin,  kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan, selanjutnya
        apakah  ia kenal terdakwa sebelum terdakwa melakukan perbuatan yang
        menjadi  dasar dakwaan serta apakah ia berkeluarga sedarah atau semenda
        dan  sampai derajat keberapa dengan terdakwa, atau apakah ia suami atau 
        isteri terdakwa meskipun sudah bercerai atau terikat hubungan kerja 
        dengannya.', '(3)  sebelum memberi keterangan, saksi wajib mengucapkan
        sumpah atau  janji menurut cara agamanya masing-masing, bahwa ia akan
        memberikan  keterangan yang  sebenarnya dan tidak lain daripada yang
        sebenarnya.']
      - >-
        ['(1)  setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di  jalan yang
        melanggar aturan perintah atau larangan  yang dinyatakan dengan rambu
        lalu lintas sebagaimana  dimaksud dalam pasal 106  ayat (4) huruf a atau
        marka  jalan sebagaimana dimaksud dalam pasal 106  ayat (4)  huruf b
        dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2  (dua) bulan atau denda
        paling banyak rp500.000,00  (lima ratus ribu rupiah).', '(2)  setiap
        orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di  jalan yang melanggar 
        aturan perintah atau larangan  yang dinyatakan dengan alat pemberi
        isyarat lalu lintas  sebagaimana dimaksud dalam pasal 106  ayat (4)
        huruf c  dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua)  bulan atau
        denda paling banyak rp500.000,00 (lima  ratus ribu rupiah).', '(3) 
        setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di  jalan yang
        melanggar aturan gerakan lalu lintas  sebagaimana dimaksud dalam pasal
        106  ayat', '(4) huruf d  atau  tata  cara  berhenti  dan  parkir 
        sebagaimana  dimaksud dalam pasal 106  ayat (4) huruf e dipidana  dengan
        pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau  denda paling banyak
        rp250.000,00 (dua ratus lima  puluh ribu rupiah).     (3) setiap . . . 
        (4)  setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di  jalan yang
        melanggar ketentuan mengenai penggunaan  atau  hak  utama  bagi 
        kendaraan  bermotor  yang  menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan
        sinar  sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 , pasal 106  ayat  (4) huruf
        f, atau pasal 134  dipidana dengan pidana  kurungan paling lama 1 (satu)
        bulan atau denda paling  banyak rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu 
        rupiah).', '(5)  setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di 
        jalan yang melanggar aturan batas kecepatan paling  tinggi atau paling
        rendah sebagaimana dimaksud dalam  pasal 106  ayat (4) huruf g atau
        pasal 115  huruf a  dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) 
        bulan atau denda paling banyak rp500.000,00 (lima  ratus ribu rupiah).']
      - >-
        Dalam buku "Hukum Bisnis Untuk Perusahaan" karya Abdul R. Saliman
        (2005:47), dijelaskan beberapa kondisi yang menyebabkan debitur dapat
        dianggap melakukan wanprestasi.  Penjelasan tersebut merinci
        situasi-situasi di mana debitur, meskipun telah dinyatakan lalai, tetap
        gagal memenuhi kewajiban perjanjiannya atau hanya dapat memenuhi
        kewajiban tersebut melewati batas waktu yang telah ditentukan.  Buku ini
        memberikan pemahaman mendalam tentang berbagai aspek hukum bisnis,
        termasuk definisi dan implikasi wanprestasi dalam konteks perjanjian
        bisnis.  Penulis memaparkan  konsekuensi hukum bagi debitur yang
        melakukan wanprestasi, serta  hak-hak yang dimiliki oleh kreditur dalam
        menghadapi situasi tersebut.
datasets:
  - ShoAnn/indo_legalqa_triplets
pipeline_tag: sentence-similarity
library_name: sentence-transformers

SentenceTransformer based on indobenchmark/indobert-base-p1

This is a sentence-transformers model finetuned from indobenchmark/indobert-base-p1 on the indo_legalqa_triplets dataset. It maps sentences & paragraphs to a 768-dimensional dense vector space and can be used for semantic textual similarity, semantic search, paraphrase mining, text classification, clustering, and more.

Model Details

Model Description

Model Sources

Full Model Architecture

SentenceTransformer(
  (0): Transformer({'max_seq_length': 512, 'do_lower_case': False}) with Transformer model: BertModel 
  (1): Pooling({'word_embedding_dimension': 768, 'pooling_mode_cls_token': False, 'pooling_mode_mean_tokens': True, 'pooling_mode_max_tokens': False, 'pooling_mode_mean_sqrt_len_tokens': False, 'pooling_mode_weightedmean_tokens': False, 'pooling_mode_lasttoken': False, 'include_prompt': True})
)

Usage

Direct Usage (Sentence Transformers)

First install the Sentence Transformers library:

pip install -U sentence-transformers

Then you can load this model and run inference.

from sentence_transformers import SentenceTransformer

# Download from the 🤗 Hub
model = SentenceTransformer("retriever_checkpoints")
# Run inference
sentences = [
    'Apakah seseorang yang melakukan wanprestasi suatu perjanjian dapat dikatakan melakukan suatu penipuan?',
    'Dalam buku "Hukum Bisnis Untuk Perusahaan" karya Abdul R. Saliman (2005:47), dijelaskan beberapa kondisi yang menyebabkan debitur dapat dianggap melakukan wanprestasi.  Penjelasan tersebut merinci situasi-situasi di mana debitur, meskipun telah dinyatakan lalai, tetap gagal memenuhi kewajiban perjanjiannya atau hanya dapat memenuhi kewajiban tersebut melewati batas waktu yang telah ditentukan.  Buku ini memberikan pemahaman mendalam tentang berbagai aspek hukum bisnis, termasuk definisi dan implikasi wanprestasi dalam konteks perjanjian bisnis.  Penulis memaparkan  konsekuensi hukum bagi debitur yang melakukan wanprestasi, serta  hak-hak yang dimiliki oleh kreditur dalam menghadapi situasi tersebut.',
    "['(1)  a.  saksi dipanggil ke dalam ruang sidang seorang demi seorang  menurut urutan yang dipandang sebaik-baiknya oleh hakim ketua  sidang setelah mendengar pendapat penuntut umum, terdakwa  atau penasihat hukum;  b.  yang pertama-tama didengar keterangannya adalah korban yang  menjadi saksi;  c.  dalam hal ada saksi baik yang menguntungkan maupun yang  memberatkan terdakwa yang tercantum dalam surat pelimpahan  perkara dan atau yang diminta oleh terdakwa atau penasihat  hukum atau penuntut umum selama berlangsungnya sidang atau  sebelum dijatuhkannya putusan, hakim ketua sidang wajib  mendengar keterangan saksi tersebut.', '(2)  hakim ketua sidang menanyakan kepada saksi keterangan tentang nama  lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,  kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan, selanjutnya apakah  ia kenal terdakwa sebelum terdakwa melakukan perbuatan yang menjadi  dasar dakwaan serta apakah ia berkeluarga sedarah atau semenda dan  sampai derajat keberapa dengan terdakwa, atau apakah ia suami atau  isteri terdakwa meskipun sudah bercerai atau terikat hubungan kerja  dengannya.', '(3)  sebelum memberi keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau  janji menurut cara agamanya masing-masing, bahwa ia akan memberikan  keterangan yang  sebenarnya dan tidak lain daripada yang sebenarnya.']",
]
embeddings = model.encode(sentences)
print(embeddings.shape)
# [3, 768]

# Get the similarity scores for the embeddings
similarities = model.similarity(embeddings, embeddings)
print(similarities.shape)
# [3, 3]

Training Details

Training Dataset

indo_legalqa_triplets

  • Dataset: indo_legalqa_triplets at 2659be8
  • Size: 7,037 training samples
  • Columns: q, pos, and neg
  • Approximate statistics based on the first 1000 samples:
    q pos neg
    type string string string
    details
    • min: 9 tokens
    • mean: 60.37 tokens
    • max: 179 tokens
    • min: 19 tokens
    • mean: 118.11 tokens
    • max: 512 tokens
    • min: 36 tokens
    • mean: 488.87 tokens
    • max: 512 tokens
  • Samples:
    q pos neg
    Apa pasal yang bisa menjerat pengurus yayasan filantropi yang menyalahgunakan dana donasi? Apakah penyelewengan atau penyalahgunaan dana donasi yayasan swasta itu bisa dikategorikan sebagai korupsi? Apakah masyarakat dapat melaporkan kasus tersebut kepada KPK? Penjelasan Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi : Yang dimaksud dengan “secara nyata telah ada kerugian keuangan negara” adalah kerugian yang sudah dapat dihitung jumlahnya berdasarkan hasil temuan instansi yang berwenang atau akuntan publik yang ditunjuk. Ayat (2) Yang dimaksud dengan “putusan bebas” adalah putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 191 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Pasal 37 angka 12 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 82 ayat (3) UU P3H. : ['(1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara untuk kegiatan angkutan udara wajib memiliki sertifikat. (21 sertifrkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. sertilikat operator pesawat udara (air operator ertificatel yang diberikan kepada badan hukum indonesia yang mengoperasikan pesawat udara sipil untuk angkutan udara niaga; atau b. sertiflkat pengoperasian pesawat udara (operating ertificatel yang diberikan kepada orang atau badan hukum indonesia yang pesawat udara sipil untuk angkutan udara bukan niaga. 19. pasal 42 dihapus. 21. ketentuan. . . sk no 132655 a 20. pasal 43 dihapus. presiden repuelik indonesia -430- 21. ketentuan pasal 45 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 45 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur memperoleh sertifrkat operator pesawat udara atau sertilikat pengoperasian pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaa...
    Apa pasal yang bisa menjerat pengurus yayasan filantropi yang menyalahgunakan dana donasi? Apakah penyelewengan atau penyalahgunaan dana donasi yayasan swasta itu bisa dikategorikan sebagai korupsi? Apakah masyarakat dapat melaporkan kasus tersebut kepada KPK? Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan : 15. kerugian negara/daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Pasal 37 angka 12 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 82 ayat (3) UU P3H. : ['(1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara untuk kegiatan angkutan udara wajib memiliki sertifikat. (21 sertifrkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. sertilikat operator pesawat udara (air operator ertificatel yang diberikan kepada badan hukum indonesia yang mengoperasikan pesawat udara sipil untuk angkutan udara niaga; atau b. sertiflkat pengoperasian pesawat udara (operating ertificatel yang diberikan kepada orang atau badan hukum indonesia yang pesawat udara sipil untuk angkutan udara bukan niaga. 19. pasal 42 dihapus. 21. ketentuan. . . sk no 132655 a 20. pasal 43 dihapus. presiden repuelik indonesia -430- 21. ketentuan pasal 45 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 45 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur memperoleh sertifrkat operator pesawat udara atau sertilikat pengoperasian pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaa...
    Apa pasal yang bisa menjerat pengurus yayasan filantropi yang menyalahgunakan dana donasi? Apakah penyelewengan atau penyalahgunaan dana donasi yayasan swasta itu bisa dikategorikan sebagai korupsi? Apakah masyarakat dapat melaporkan kasus tersebut kepada KPK? Pasal 1 angka 1 Undang-Undang 16 Tahun 2001 tentang Yayasan : pasal 1 dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota. 2. pengadilan adalah pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan yayasan. 3. kejaksaan adalah kejaksaan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan yayasan. 4. akuntan publik adalah akuntan yang memiliki izin untuk menjalankan pekerjaan sebagai akuntan publik. 5. hari adalah hari kerja. 6. menteri adalah menteri kehakiman dan hak asasi manusia. Pasal 37 angka 12 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 82 ayat (3) UU P3H. : ['(1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara untuk kegiatan angkutan udara wajib memiliki sertifikat. (21 sertifrkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. sertilikat operator pesawat udara (air operator ertificatel yang diberikan kepada badan hukum indonesia yang mengoperasikan pesawat udara sipil untuk angkutan udara niaga; atau b. sertiflkat pengoperasian pesawat udara (operating ertificatel yang diberikan kepada orang atau badan hukum indonesia yang pesawat udara sipil untuk angkutan udara bukan niaga. 19. pasal 42 dihapus. 21. ketentuan. . . sk no 132655 a 20. pasal 43 dihapus. presiden repuelik indonesia -430- 21. ketentuan pasal 45 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 45 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur memperoleh sertifrkat operator pesawat udara atau sertilikat pengoperasian pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaa...
  • Loss: TripletLoss with these parameters:
    {
        "distance_metric": "TripletDistanceMetric.EUCLIDEAN",
        "triplet_margin": 5
    }
    

Evaluation Dataset

indo_legalqa_triplets

  • Dataset: indo_legalqa_triplets at 2659be8
  • Size: 610 evaluation samples
  • Columns: q, pos, and neg
  • Approximate statistics based on the first 610 samples:
    q pos neg
    type string string string
    details
    • min: 8 tokens
    • mean: 52.38 tokens
    • max: 223 tokens
    • min: 5 tokens
    • mean: 93.74 tokens
    • max: 512 tokens
    • min: 12 tokens
    • mean: 480.32 tokens
    • max: 512 tokens
  • Samples:
    q pos neg
    Bisakah pemilik Showroom mobil dikenakan UU Tindak Pidana Pencucian Uang apabila pembelinya menggunakan uang hasil tindak pidana korupsi untuk membeli mobil? Terima kasih admin hukumonline.com ['(1) penyedia barang dan/atau jasa lain sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat (1) huruf b wajib menyampaikan laporan transaksi yang dilakukan oleh pengguna jasa dengan mata uang rupiah dan/atau mata uang asing yang nilainya paling sedikit atau setara dengan rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) kepada ppatk.', '(2) laporan . . . (2) laporan transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal transaksi dilakukan.'] ['(1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara untuk kegiatan angkutan udara wajib memiliki sertifikat. (21 sertifrkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. sertilikat operator pesawat udara (air operator ertificatel yang diberikan kepada badan hukum indonesia yang mengoperasikan pesawat udara sipil untuk angkutan udara niaga; atau b. sertiflkat pengoperasian pesawat udara (operating ertificatel yang diberikan kepada orang atau badan hukum indonesia yang pesawat udara sipil untuk angkutan udara bukan niaga. 19. pasal 42 dihapus. 21. ketentuan. . . sk no 132655 a 20. pasal 43 dihapus. presiden repuelik indonesia -430- 21. ketentuan pasal 45 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 45 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur memperoleh sertifrkat operator pesawat udara atau sertilikat pengoperasian pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 22. ketentuan pasal 4...
    Saya memiliki kasus, yaitu 2 minggu yang lalu toko mebel kami mengalami kebakaran, lalu api yang membakar toko mebel kami merambat, dan membakar salah satu rumah tetangga yang ada di samping toko mebel kami. Secara hukum, kami ingin mengerti apakah tetangga yang rumahnya terbakar dapat menuntut kami atas insiden itu? Dalam KUHP lama yang pada saat artikel ini diterbitkan masih berlaku, dan UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku terhitung 3 tahun sejak tanggal diundangkan,[2] yaitu tahun 2026, tidak ditemukan suatu definisi tentang kealpaan, sehingga perlu merujuk kepada suatu doktrin hukum. Spam & praktik penipuan; Komunitas YouTube dibangun atas dasar kepercayaan. Konten yang bertujuan untuk menipu, menyesatkan, mengirim spam, atau menipu pengguna lain tidak diizinkan di YouTube. Kebijakan spam, praktik penipuan, & penipuan Kebijakan peniruan identitas Kebijakan tautan eksternal Kebijakan keterlibatan palsu Kebijakan daftar putar Kebijakan tambahan. Konten sensitif; Kami berharap dapat melindungi penonton, kreator, dan khususnya anak di bawah umur. Itulah sebabnya kami memiliki aturan seputar menjaga keamanan anak, seks & ketelanjangan, dan tindakan menyakiti diri sendiri. Pelajari apa saja yang diizinkan di YouTube dan apa yang harus dilakukan jika Anda melihat konten yang tidak mematuhi kebijakan ini. Kebijakan konten ketelanjangan & seksual Kebijakan gambar mini Kebijakan keselamatan anak Kebijakan bunuh diri, menyakiti diri sendiri, dan gangguan makan Kebijakan bahasa vulgar. Konten kekerasan atau berbahaya; Ujaran kebencian, perilaku predator, kekerasan grafis, sera...
    Mohon izin bertanya bapak/ibu. Apakah menerima gadai kendaraan secara sadar hanya diperlihatkan fisik kendaraan dan STNK-nya saja apakah perbuatan yang salah secara hukum? Akhirnya berujung masalah ternyata mobil yang digadai itu adalah mobil rental. Apakah bisa yang menerima gadai itu dikenakan Pasal 480 KUHP? Terimakasih bapak atau ibu atas perhatiannya. Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 3 (tiga) tahun terhitung sejak tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. ['(1) setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara untuk kegiatan angkutan udara wajib memiliki sertifikat. (21 sertifrkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. sertilikat operator pesawat udara (air operator ertificatel yang diberikan kepada badan hukum indonesia yang mengoperasikan pesawat udara sipil untuk angkutan udara niaga; atau b. sertiflkat pengoperasian pesawat udara (operating ertificatel yang diberikan kepada orang atau badan hukum indonesia yang pesawat udara sipil untuk angkutan udara bukan niaga. 19. pasal 42 dihapus. 21. ketentuan. . . sk no 132655 a 20. pasal 43 dihapus. presiden repuelik indonesia -430- 21. ketentuan pasal 45 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: pasal 45 ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedur memperoleh sertifrkat operator pesawat udara atau sertilikat pengoperasian pesawat udara dan kriteria, jenis, besaran denda, dan tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dalam peraturan pemerintah. 22. ketentuan pasal 4...
  • Loss: TripletLoss with these parameters:
    {
        "distance_metric": "TripletDistanceMetric.EUCLIDEAN",
        "triplet_margin": 5
    }
    

Training Hyperparameters

Non-Default Hyperparameters

  • eval_strategy: steps
  • per_device_train_batch_size: 4
  • gradient_accumulation_steps: 8
  • learning_rate: 2e-05
  • num_train_epochs: 10
  • load_best_model_at_end: True

All Hyperparameters

Click to expand
  • overwrite_output_dir: False
  • do_predict: False
  • eval_strategy: steps
  • prediction_loss_only: True
  • per_device_train_batch_size: 4
  • per_device_eval_batch_size: 8
  • per_gpu_train_batch_size: None
  • per_gpu_eval_batch_size: None
  • gradient_accumulation_steps: 8
  • eval_accumulation_steps: None
  • torch_empty_cache_steps: None
  • learning_rate: 2e-05
  • weight_decay: 0.0
  • adam_beta1: 0.9
  • adam_beta2: 0.999
  • adam_epsilon: 1e-08
  • max_grad_norm: 1.0
  • num_train_epochs: 10
  • max_steps: -1
  • lr_scheduler_type: linear
  • lr_scheduler_kwargs: {}
  • warmup_ratio: 0.0
  • warmup_steps: 0
  • log_level: passive
  • log_level_replica: warning
  • log_on_each_node: True
  • logging_nan_inf_filter: True
  • save_safetensors: True
  • save_on_each_node: False
  • save_only_model: False
  • restore_callback_states_from_checkpoint: False
  • no_cuda: False
  • use_cpu: False
  • use_mps_device: False
  • seed: 42
  • data_seed: None
  • jit_mode_eval: False
  • use_ipex: False
  • bf16: False
  • fp16: False
  • fp16_opt_level: O1
  • half_precision_backend: auto
  • bf16_full_eval: False
  • fp16_full_eval: False
  • tf32: None
  • local_rank: 0
  • ddp_backend: None
  • tpu_num_cores: None
  • tpu_metrics_debug: False
  • debug: []
  • dataloader_drop_last: False
  • dataloader_num_workers: 0
  • dataloader_prefetch_factor: None
  • past_index: -1
  • disable_tqdm: False
  • remove_unused_columns: True
  • label_names: None
  • load_best_model_at_end: True
  • ignore_data_skip: False
  • fsdp: []
  • fsdp_min_num_params: 0
  • fsdp_config: {'min_num_params': 0, 'xla': False, 'xla_fsdp_v2': False, 'xla_fsdp_grad_ckpt': False}
  • tp_size: 0
  • fsdp_transformer_layer_cls_to_wrap: None
  • accelerator_config: {'split_batches': False, 'dispatch_batches': None, 'even_batches': True, 'use_seedable_sampler': True, 'non_blocking': False, 'gradient_accumulation_kwargs': None}
  • deepspeed: None
  • label_smoothing_factor: 0.0
  • optim: adamw_torch
  • optim_args: None
  • adafactor: False
  • group_by_length: False
  • length_column_name: length
  • ddp_find_unused_parameters: None
  • ddp_bucket_cap_mb: None
  • ddp_broadcast_buffers: False
  • dataloader_pin_memory: True
  • dataloader_persistent_workers: False
  • skip_memory_metrics: True
  • use_legacy_prediction_loop: False
  • push_to_hub: False
  • resume_from_checkpoint: None
  • hub_model_id: None
  • hub_strategy: every_save
  • hub_private_repo: None
  • hub_always_push: False
  • gradient_checkpointing: False
  • gradient_checkpointing_kwargs: None
  • include_inputs_for_metrics: False
  • include_for_metrics: []
  • eval_do_concat_batches: True
  • fp16_backend: auto
  • push_to_hub_model_id: None
  • push_to_hub_organization: None
  • mp_parameters:
  • auto_find_batch_size: False
  • full_determinism: False
  • torchdynamo: None
  • ray_scope: last
  • ddp_timeout: 1800
  • torch_compile: False
  • torch_compile_backend: None
  • torch_compile_mode: None
  • include_tokens_per_second: False
  • include_num_input_tokens_seen: False
  • neftune_noise_alpha: None
  • optim_target_modules: None
  • batch_eval_metrics: False
  • eval_on_start: False
  • use_liger_kernel: False
  • eval_use_gather_object: False
  • average_tokens_across_devices: False
  • prompts: None
  • batch_sampler: batch_sampler
  • multi_dataset_batch_sampler: proportional

Training Logs

Epoch Step Training Loss Validation Loss
0.4545 100 0.3101 -
0.9091 200 0.3352 0.0143
1.3636 300 0.1978 -
1.8182 400 0.0518 0.0005
2.2727 500 0.0287 -
2.7273 600 0.0684 0.0
3.1818 700 0.0239 -
3.6364 800 0.0552 0.0153
4.0909 900 0.0048 -
4.5455 1000 0.0118 0.0
5.0 1100 0.0072 -
5.4545 1200 0.0031 0.0046
5.9091 1300 0.002 -
6.3636 1400 0.0082 0.0058
6.8182 1500 0.0 -
7.2727 1600 0.0 0.0050
7.7273 1700 0.0 -
8.1818 1800 0.0 0.0050
8.6364 1900 0.0004 -
9.0909 2000 0.0051 0.0022
9.5455 2100 0.0 -
10.0 2200 0.0 0.0023
  • The bold row denotes the saved checkpoint.

Framework Versions

  • Python: 3.11.12
  • Sentence Transformers: 3.4.1
  • Transformers: 4.51.3
  • PyTorch: 2.6.0+cu124
  • Accelerate: 1.6.0
  • Datasets: 3.6.0
  • Tokenizers: 0.21.1

Citation

BibTeX

Sentence Transformers

@inproceedings{reimers-2019-sentence-bert,
    title = "Sentence-BERT: Sentence Embeddings using Siamese BERT-Networks",
    author = "Reimers, Nils and Gurevych, Iryna",
    booktitle = "Proceedings of the 2019 Conference on Empirical Methods in Natural Language Processing",
    month = "11",
    year = "2019",
    publisher = "Association for Computational Linguistics",
    url = "https://arxiv.org/abs/1908.10084",
}

TripletLoss

@misc{hermans2017defense,
    title={In Defense of the Triplet Loss for Person Re-Identification},
    author={Alexander Hermans and Lucas Beyer and Bastian Leibe},
    year={2017},
    eprint={1703.07737},
    archivePrefix={arXiv},
    primaryClass={cs.CV}
}